A.
Definisi Sila
Sila
atau moralitas berasal dari kata ‘Sila’
di dalam bahasa Pali. Definisi sederhana dari Sila adalah alat bantu yang digunakan oleh seseorang untuk dapat
mempunyai sikap atau prilaku yang baik, yang bagus, yang murni, atau tidak
tercela. Dengan kata lain, Sila dapat
juga dikatakan sebagai alat pengendali yang digunakan agar terhindar dari
perbuatan dan ucapan yang tidak terpuji. Sila
berada pada posisi kedua dalam tiga landasan perbuatan berjasa (Punna-Kiriya-Vathu) yaitu dana (Dana), Sila atau moralitas (Sila),
dan pengembangan mental/meditasi (Bhavana)
atau bila di uraikan lebih detail menjadi sepuluh perbuatan berjasa.
Di dalam tradisi buddhis, banyak dibicarakan
tentang Sila dalam berbagai konteks yang
terdapat dalam kitab-kitab. Buddhaghosa dalam kitab Visuddhimagga memberikan empat penafsiran mengenai Sila. Keempat penafsiaran itu adalah
sebagai berikut:
1)
Menunjukkan sikap batin
atau kehendak (Cetana).
Sila
adalah Cetana yaitu Cetana yang berada pada orang yang
menghindari perbuatan dan ucapan tidak terpuji yaitu membunuh, mencuri,
melakukan perbuatan asusila, berbohong, memfitnah, bicara kasar, dan bergosip.
2)
Menunjukkan hanya penghindaran
(Virati) yang merupakan unsur batin (Cetasika).
Sila
adalah faktor mental (Cetasika) yaitu
tiga Cetasika penghindaran (Virati) yaitu ucapan benar, perbuatan
benar, dan penghidupan benar.
3)
Menunjukkan
pengendalian diri (Samvara).
Sila
adalah pengendalian (Samvara) yaitu
melakukan pengendalian diri agar tidak terjadi pelanggaran. Ada lima macam
pengendalian, yaitu :
a. Pengendalian
dengan 227 peraturan kebhikkhuan.
b. Pengendalian
dengan perhatian murni – Sati.
c. Pengendalian
dengan pengetahuan.
d. Pengendalian
dengan kesabaran.
e. Pengendalian
dengan usaha.
4)
Menunjukkan tiada
pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan (Avitikkama).
Sila
adalah tanpa pelanggaran yaitu tidak melakukan pelanggaran melalui perbuatan
ataupun ucapan terhadap peraturan yang sedang dijalani.
Sila Paramita merupakan perbuatan luhur tentang hidup bersusila, tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik oleh badan (Kaya), ucapan (Vaci),
dan pikiran (Citta). Pelaksanaan Sila Paramita merupakan pelengkap dari
seorang Bodhisattva yang telah
melaksanakan Dana Paramita.
Pelaksanaan Sila Paramita ini dapat diumpamakan kaki ataupun mata, tanpa kaki
maka seseorang akan terjatuh ke dalam bentuk kehidupan yang penuh kejahatan,
ataupun tanpa mata maka seseorang tidak akan dapat melihat Dhamma.
Terdapat tiga pengertian dalam
menguraikan Sila Paramita, yaitu
Kebajikan moral secara umum yang mana kepribadian mengagumkan merupakan ciri
utamanya; Kebajikan moral yang dikaitkan dengan suatu cita-cita penyucian yang
direalisasikan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan; Kebajikan moral yang
dikaitkan dengan lima ajaran moral (Pancasila Buddhis) dan sepuluh jalan
tindakan yang baik dan bermanfaat dan merupakan latihan moral kebajikan bagi
umat awam.
Pelaksanaan Sila merupakan suatu usaha seorang Bodhisattva untuk memusnahkan seluruh tiga akar kesengsaraan atau
tiga racun dunia, yaitu Lobha yaitu
hawa nafsu, gairah, kesenangan perasaan; Dosa
yaitu kebencian dan keinginan buruk; Moha
yaitu kebodohan batin, khayalan, kebingungan mengenai pikiran.
Dalam
melatih Sila Paramita, maka terdapat
sepuluh pantangan yang harus dijalankan seorang Bodhisattva, yaitu pantang membunuh makhluk hidup, pantang mencuri,
pantang dari ketidak-sucian, pantang berbicara bohong, pantang memfinah, pantang
berbicara kasar, pantang terhadap kesembronoan dan berbicara yang tidak
berarti, pantang terhadap sifat iri hati, pantang terhadap sifat dengki, dan
pantang dari pandangan salah
Ciri
dari Sila adalah ketertiban dan
ketenangan. Sila dengan jalan apapun
dijelaskan selalu menampilkan ciri ketertiban dan ketenangan yang terpelihara
dan dipertahankan dengan pengendalian perbuatan jasmaniah, ucapan dan pikiran. Fungsi
Sila yaitu menghancurkan kelakuan
yang salah (Dussiliya) dan menjaga
seseorang agar tetap tidak bersalah (Anvajja).
Wujud dari Sila adalah kesucian (Soceyya). Kita mengenal seseorang
dengan melihat rupanya, demikian pula kita mengenal Sila dengan wujudnya yang suci dalam perbuatan jasmaniah (Kaya-Socceya),
ucapan (Vaci-Socceya) dan pikiran (Mano-Soceyya).
Sebab
terdekat yang menimbulkan Sila adalah
adanya Hiri dan Ottapa. Hiri adalah ‘malu
berbuat salah’ dan Ottapa adalah
‘takut pada akibat perbuatan salah’. Hiri-Ottapa
adalah pelindung dunia
(Lokapaladhamma). Jika tidak ada lagi Hiri-Ottapa,
dalam diri akan berkecamuk kekacauan yang akan merugikan diri sendiri dan
masyarakat luas. Sebaliknya, bila terdapat Hiri
dan Ottapa, dunia ini penuh dengan
ketentraman dan kedamaian.
B.
Manfaat
Melaksanakan Sila
Faedah Sila banyak disebutkan dalam
khotbah-khotbah Sang Buddha, diantaranya yang paling banyak disebut adalah
ketiadaan-penyesalan (Avippatisara).
Batin yang bebas dari penyesalan akan mendapatkan ketenangan dan akan mudah
mencapai Samadhi. Dalam Anguttara Nikaya IV (99). Sang Buddha bersabda kepada Ananda sebagai berikut:
“Ananda! Sila memiliki
tiada penyesalan sebagai tujuan dan buahnya.”
Dalam
Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha
bersabda kepada Gharavasa (perumah
tangga) tentang faedah dari Sila,
sebagai berikut:
a) Sila menyebabkan
seseorang memiliki banyak harta kekayaan.
b) Nama
dan kemashyuranya akan tersebar luas.
c)
Dia menghadiri setiap
pertemuan tanpa ketakutan atau keraguan-raguan, karena ia menyadari bahwa ia
tidak akan dicela atau didakwa orang banyak.
d) Sewaktu
akan meninggal dunia hatinya tentram.
e) Akan
terlahir dalam alam surga.
Selain
itu, dalam Theragatha, yang terdapat
dalam kitab Khuddaka Nikaya, Silava
Thera mengatakan:
“Orang
bijaksana yang mendambakan tiga macam kebahagiaan: kemasyhuran, kekayaan, dan
kebahagiaan kehidupan surga hendaknya memelihara sila.”
Faedah
Sila yang lain ialah menjadi orang
yang dicintai oleh makhluk-makhluk lain sebagai awalnya. Dalam Akankheyya Sutta yang terdapat dalam
kitab Majjhima Nikaya, Sang Buddha
bersabda:
“Para
bhikkhu, apabila seorang bhikkhu berharap ‘semoga saya menjadi kecintaan,
kesukaan, kehormatan, kepercayaan, kebanggaan, bagi sahabat-sahabat
sepenghidupan suci’ hendaknya ia menyempurnakan sila-nya.”
Di
samping itu dalam kitab Digha Nikaya II
(69-70) Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu sebagai berikut:
“Jika
seorang bhikkhu ingin dicintai dan dihormati oleh sesama bhikkhu, dia harus
menjalankan sila.”
Kutipan-kutipan
tersebut di atas merupakan sebagian kecil tentang faedah dari Sila yang dibabarkan oleh sang Buddha
sendiri. Dari babaran itu terlihat bagaimana pentingnya Sila dalam kehidupan dan dasar penghidupan yang jujur serta
merupakan tangga untuk mencapai kehidupan surga. Namun demikian, tujuan
tertinggi pengembangan Sila adalah
jalan untuk menacapai Nibbana.
Sila
dari seseorang dikatakan tidak bersih apabila Sila itu telah dilanggar dengan perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan Sila itu sendiri.
Bagaimanapun terjadinya pelanggaran itu, godaan adalah akar dari pelanggaran Sila sehingga Sila itu menjadi tidak bersih. Noda dari Sila tidak dapat dihilangkan dengan mencucinya dengan air sebanyak
tujuh samudara. Noda itu tidak dapat dihilangkan dengan apapun, kecuali dengan
melaksanakan Sila. Sebaliknya, Sila dikatakan bersih apabila tidak ada
pelanggaran Sila. Dalam Sutta-Sutta disebutkan bahwa kesucian Sila dapat dipertahankan dengan
menyadari bahaya dari pelanggaran Sila
dan manfaat mempertahankan Sila.
Dari
penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa pelaksanaan Sila untuk menghindari terjadinya pelanggaran memberikan banyak
sekali manfaat. Namun demikian, untuk membuat seseorang menjadi lebih baik,
seseorang harus mengembangkan lima hal di bawah ini.
a. Hal
pertama adalah hal yang berhubungan dengan sila
pertama (menghindari pembunuhan), yaitu mengembangkan cinta kasih universal (Metta).
b. Hal
kedua adalah hal yang berhubungan dengan sila
kedua (menghindari pencurian), yaitu mengembangkan kemurahan hati/berdana (Dana).
c. Hal
ketiga adalah hal yang berhubungan dengan sila
ketiga (menghindari perbuatan asusila), yaitu mengembangkan perasaan puas dan
sedikit keinginan.
d. Hal
keempat adalah hal yang berhubungan dengan Sila
keempat (menghindari berbohong), yaitu mengembangkan kejujuran.
e. Hal
kelima adalah hal yang berhubungan dengan Sila
kelima (menghindari penggunaan zat yang dapat melemahkan kesadaran, yaitu
mengembangkan kebijaksanaan.
C.
Macam – Macam Sila
Bila
dilihat dari jumlah latihannya Sila
terdiri dari 3 tingkatan, yaitu :
a. Hina Sila atau
Cula Sila
Adalah Sila yang jumlahnya kecil/sedikit,
terdiri dari Pancasila dan Atthasila. Pancasila terdiri dari lima
latihan kemoralan yang berisi tentang :
1.
Pānātipātā Veramani
Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk menghindari
pembunuhan makhluk hidup).
Yang harus dihindari dalam Sila I adalah : membunuh manusia dan
hewan, menyiksa manusia dan binatang, menyakiti (jasmani) manusia dan binatang.
2.
Adinnādānā Veramani
Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil
barang yang tidak diberikan).
Yang
harus dihindari dari Sila ke II
adalah : merampok, korupsi, mencopet, manipulasi, penggelapan barang atau uang,
berjudi, taruhan, dan sebagainya.
3.
Kāmesu Micchācāra
Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan
perbuatan asusila).
Yang harus dihindari dari Sila ke III adalah : melakukan hubungan
kelamin yang buka suami/istri, berciuman dengan lain jenis ditempat ramai/sepi,
mencolek, meraba lawan jenis dengan sengaja.
4.
Musāvāda Veramani
Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari
ucapan yang tidak benar).
Yang harus
dihindari dari Sila ke IV adalah :
Menipu, memfitnah, omong kosong, menuduh dan sejenisnya.
5. Surā Meraya Majja Pamādatthānā Veramani Sikkhapadam
Samādiyāmi (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan
makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).
Yang harus
dihindari dari Sila ke V adalah :
menggunakan obat yang tidak seharusnya, minum-minuman yang menyebabkan
ketagihan.
D.
Sila dalam Tipitaka dan Bentuk Sila
Dalam Kitab Tipitaka banyak kita jumpai Sutta-Sutta
yang mengandung penjabaran tentang Sila,
Samadhi dan Panna dalam bentuk
tiga rangkaian latihan. 13 urutan pertama dan Sutta-Sutta di dalam Kitab Digha
Nikaya adalah Sutta mengenai Sila, Samadhi dan Panna. Dari Sutta-Sutta tersebut
terlihat bahwa Sila merupakan
pengalaman mendasar dari agama Buddha, diantaranya dalam Brahmajala Sutta menyebutkan Cula
Sila, Majjima Sila dan Maha Sila yang
senantiasa dilaksanakan dan tidak dilanggar oleh Sang Buddha. Dalam Samannaphala Sutta disebutkan bahwa
seorang Samana harus sempurna
terlatih dalam Sila, terkendali
indriya-indriyanya dan memiliki kewaspadaan dan memiliki pengertian benar
tentang fenomena alam. Dalam Ambattha Sutta
secara panjang lebar Sang Buddha menjelaskan kepada Brahmana Ambattha
tentang Vijja (Abhinna) dan Carana (perilaku yang baik). Vijja dan Carana menunjukan Samadhi dan
Sila. Dalam Sonadanda Sutta disebutkan Sila
membersihkan Panna dan Panna membersihkan Sila. Di dalam Sutta ini
ditekankan lagi saling keterkaitan antara keduanya dan pentingnya latihan Sila sebelum seseorang memulai latihan Samadhi.
Dalam Raithavinita Sutta, Tisso
Sikkha dijelaskan dalam bentuk tujuh kesucian (Satta Visuddhiyo), yaitu;
1. Kesucian Sila (Sila Visuddhi)
2.
Kesucian Manas (Citta
Visuddhi)
3.
Kesucian Pandangan (Ditthi
Visuddhi)
4.
Kesucian dalam melenyapkan keragu-raguan (Kankha Vitarana Visuddhi)
5. Kesucian pengetahuan tentang hakikat
yang sesungguhnya dari jalan yang benar dan yang salah (Maggamagga Nanadassana Visuddhi)
6. Kesucian pengetahuan tentang hakikat
yang sesungguhnya dari kemajuan (Patipada
Nanadassana Visuddhi)
7.
Kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari
jalan suci Magga Nana Visuddhi).
Sila Visuddhi dan Citta Visuddhi
masing-masing merupakan Sila dan Samadhi, sedangkan kelima Visuddhi lainnya merupakan Panna. Dalam Visuddhi Magga dan Vimutti
Magga dijumpai penjabaran terinci tentang ketujuh Visuddhi tersebut. Kitab Visuddhimagga
terdiri dari 223 Bab untuk Sila
dan Dutangga, 11 Bab berikutnya untuk Samadhi
dan 10 Bab terakhir untuk Panna. Dalam
kitab Buddhis disebutkan demikian banyaknya Sila
yang diamalkan oleh umat Buddha yang kemampuan, kesempatan dan tingkat
perkembangan batin mereka berbeda-beda. Dalam Visuddhimaggasila-Sila itu dikelompokkan atas beberapa bagian dan
diterangkan secara terinci agar mendapat gambaran seberapa jauh Sila itu dihayati dan diamalkan oleh
umat Buddha. Namun, dalam klasifikasi-klasifikasi itu tetap terkandung
pengertian bahwa Sila menimbulkan
harmoni dalam batin dan mendukung tercapainya batin yang luhur. Sila itu sebenarnya hanya satu macam,
tetapi bila dipandang dari berbagai aspek kelihatannya beraneka ragam.
Sila merupakan segi mendasar dalam agama Buddha yang mencakupi,
pertama ialah batin yang dibangun dengan menghindari perbuatan buruk dan kedua
ialah pikiran yang berhubungan dengan pelaksanaan peraturan-peraturan yang
berperan untuk kebersihan Sila.
Dengan kata lain Sila itu mempunyai
dua aspek, yaitu aspek negatif (Varitta
Sila) dan aspek positif (Caritta
Sila). Varitta Sila menekankan pada tidak melakukan perbuatan buruk dan Caritta Sila menekankan perlunya
seseorang menimbun perbuatan baik dan melaksanakan apa yang merupakan
kewajibannya. Setiap rumusan Sila
mempunyai kedua aspek tersebut. Misalnya, antara lain dalam Digha Nikaya (I, 63).
"(i)Ia menghindari pembunuhan,
membuang pentungan dan pedang; (ii) Ia hidup dengan penuh cinta kasih dan welas
asih demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk"
Bagian pertama (i) sabda Sang Buddha
tersebut diatas mengajarkan orang untuk tidak melakukan pembunuhan; bagian
kedua (ii) menyayangi semua mahkluk dan meningkatkan kebahagiaan mereka. Dari
sini dapat dilihat bahwa aspek negatif adalah pendahulu dari aspek positif,
tetapi kedua-duanya saling bergantungan. Aspek negatif merupakan persiapan dan
menyiapkan lahan yang baik untuk aspek positif. Seumpama seseorang yang akan
menanam padi di sawah, maka sebelum menanam padi ia terlebih dahulu harus
membersihkan sawahnya dari rumput-rumput agar padinya dapat tumbuh dengan baik
dan memberikan mereka hasil yang diharapkan. Aspek negatif mempunyai nilai
menjauhkan pikiran dan objek yang bukan kebaikan dan aspek positif memusatkan
seluruh pikiran pada kebaikan, sehingga semaksimal mungkin dapat melakukan
kewajiban.
Bentuk dari Sila ialah Pakati Sila dan
Pannati Sila. Pakati Sila adalah Sila alamiah, yang bersifat moral dan
terdapat hampir semua agama serta berlaku dimana-mana tanpa dibatasi oleh
waktu, misalnya Pancasila. Pannati Sila adalah
Sila yang dirumuskan oleh Sang Buddha
yang khusus diperuntukan bagi cara hidup dan tujuan hidupnya yang istimewa. Pakati Sila bila dilanggar, baik oleh Bhikkhu atau Gharavasa dan akan berakibat buruk dalam kehidupan sekarang maupun
kehidupan mendatang, misalnya membunuh mahkluk hidup. Sedangkan Pannati Sila bila dilanggar oleh Gharavasa tidak dicela atau tidak akan
berakibat buruk. Akan tetapi, bila dilanggar oleh seorang Bhikkhu maka ia akan dicela oleh para bijaksana. Misalnya, apabila
makan-makanan diluar waktu yang ditetapkan atau melihat tontonan bagi seorang gharavasa tidak dicela atau akan
berakibat buruk.
Sila dalam pengertian yang luas adalah menghilangkan pembawaan
yang tidak baik seperti keserakahan, itikad buruk, iri hati, namun sebaliknya
harus menimbun perbuatan baik seperti
berdana, itikad baik, kesediaan untuk memanfaatkan, dan lain-lain. Rumusan
Pancasila, Atthasila, dan Dasasila adalah Sila dalam aspek negatif yang merupakan latihan untuk memiliki
Sila dan sebagai tahap dasar
guna pengembangan batin agar dapat mencapai tujuan tertinggi.
E.
Pelanggaran Sila dan Akibatnya
Pelanggaran Sila
dapat terjadi dengan dua cara yaitu pelanggaran melalui ucapan dan melalui
tindakan jasmani. Selain itu, pelanggaran Sila
juga dapat terjadi berdasarkan perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri atau
dilakukan melalui orang lain (maksudnya meminta orang lain melakukannya). Untuk
pelanggaran yang dilakukan melalui orang lain berarti pelanggaran tersebut
terjadi melalui ucapan. Khusus untuk Pancasila,
pelanggaran terjadi bila semua faktor-faktor untuk terjadinya pelanggaran Sila terpenuhi, bukan berdasarkan apakah
seseorang telah berjanji melaksanakan Sila
atau tidak.
Untuk mengetahui apakah pelanggaran Sila telah terjadi atau belum,
pengetahuan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran dari
masing-masing Sila sangat dibutuhkan.
Dalam hal ini hanya akan di uraikan faktor-faktor pelanggaran untuk lima Sila (Pancasila).
1.
Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila pertama :
a.
Adanya makhluk hidup (Pano).
b.
Mengetahui bahwa
makhluk itu hidup (Panasannita).
c.
Ada niat untuk membunuh
(Vadhacittam).
d.
Ada usaha untuk
membunuh-termasuk meminta orang lain melakukannya (Upakkamo).
e.
Makhluk tersebut mati
sebagai hasil pembunuhan (Tena Maranam).
Akibat
dari membunuh yaitu umur pendek, berpenyakitan, dan senantiasa dalam kesedihan.
2.
Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila kedua :
a.
Adanya barang milik
orang lain (Para-Parigga-Hitam)
b.
Mengetahui bahwa barang
tersebut bukan miliknya (Para-Parigga-Hita-Sannita)
c.
Ada niat untuk mencuri
(Theyya-Cittam).
d.
Ada usaha untuk mencuri-termasuk meminta orang
lain melakukannya (Upakkamo),
e.
Didapatkannya barang
tersebut melalui hasil pencurian (Tena
Haranam).
Akibat
mencuri yaitu hidup dalam kemiskinan, dinista dan dihina, dan hidup tergantung
pada orang lain.
3.
Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila ketiga :
a. Ada
obyek untuk melakukan persetubuhan (Agamaniya
Vathu).
b. Ada
niat untuk melakukan persetubuhan (tasmim sevana-cittam).
c. Ada
usaha untuk melakukan persetubuhan (Sevanappayogo).
d. Terjadinya
persetubuhan melalui usaha tersebut (Maggena
Maggappatipattiadhivasanam).
Akibat berbuat
asusila yaitu beristri/bersuami dengan orang yang tidak disenangi, terlahir
dalam keadaan waria, dan memiliki banyak musuh.
4.
Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila keempat :
a.
Ada hal yang tidak
benar (Atattham Vathu),
b.
Ada niat untuk
berbohong (Visam Vadana-Cittam
c.
Ada usaha untuk
menyampaikan kebohongan tersebut (Tajjo
Vayamo),
d.
Ada orang lain yang
mempercayai (Parassa Tadattha-Vijananam)
Akibat
berbohong yaitu menjadi sasaran pembicaraan orang lain, tidak dipercaya
ucapannya, sering dituduh yang bukan-bukan, akan kehilangan sahabat tanpa sebab
yang berarti, bagian dari jasmani akan berfungsi tidak baik, dan menerima suara
yang tidak enak didengar.
5.
Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila kelima :
a.
Ada zat yang memabukkan
(Mada-Niyam).
b.
Ada niat untuk
mengkonsumsinya (Patu-Kamyata-Cittam).
c.
Ada usaha untuk
mengkonsumsinya (Tajjo Yayamo).
d.
Zat tersebut tertelan (Pitappavesanam).
Akibat
minum-minuman/makan obat terlarang yaitu dibicarakan banyak orang, kecerdasan
menurun, dan selalu tergantung pada orang lain.
Selain
akibat pelanggaran Sila yang telah
tercantum diatas, terdapat empat macam bahaya akibat dari perbuatan buruk.
Seseorang yang melanggar Sila berarti
dia melakukan perbuatan buruk, maka secara umum pelanggar Sila akan menerima empat macam bahaya, yaitu:
1.
Attanuvada
Bhaya
Bahaya akibat celaan dari
diri sendiri atau menyalahkan diri sendiri. Walaupun orang lain tidak
mengetahui bahwa seseorang telah melakukan suatu perbuatan buruk, tetapi dia
mengetehui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan buruk. Seseorang tidak bisa
membohongi diri sendiri. Maka, walaupun seseorang berusaha dengan keras untuk
melupakan perbuatan buruknya, dia tidak akan berhasil (kecuali hanya untuk
sementara waktu atau dia menjadi gila). Cepat atau lambat perbuatan buruk ini
akan menghantui pikirannya.
2.
Paranuada
Bhaya
Bahaya akibat celaan
dari orang lain. Bila perbuatan buruk tersebut diketahui oleh orang lain, maka
orang lain akan mencelanya, kemudian menghindarinya, mengucilkannya, atau
bahkan melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
3.
Danda
Bhaya
Bahaya akibat hukuman
yang harus diterimanya. Bila perbuatan buruknya diketahui orang lain, akibat
yang lebih berat dari bahaya yang kedua adalah orang yang mengetahuinya atau
orang lain atau pihak yang berwajib akan menghukumnya. Pernah mendengar orang
yang meninggal akibat dipukili masa hanya karena mencuri seekor ayam atau
sepasang sandal? Bila dia tidak meninggal, dia kemungkinan akan dipenjara.
4.
Duggati
Bhaya
Bahaya akibat terjatuh
keempat alam rendah. Penderitaan yang akan diterima penghuni alam rendah jauh
lebih berat daripada penderitaan terburuk yang manusia dapat alami. Binatang
hidupnya selalu dipenuhi ketakutan akan dimangsa oleh binatang lain atau
manusia. Hantu kelaparan, sesuai dengan namanya selalu mengalami rasa lapar
yang sangat berat dan sangat sulit mendapatkan makanan. Mahkluk neraka adalah
yang terparah dan penderitaan dialam neraka sangatlah sulit untuk dibayangkan.
Dalam Maha-Parinibbana Sutta (DN 16) Sang
Buddha menyebutkan lima kerugian akibat pelanggaran Sila yaitu:
1. Kehilangan
banyak harta karena kelalaian.
2. Mendapatkan
reputasi buruk
3. Merasa
malu, canggung, tidak percaya diri dalam semua lapisan masyarakat
4. Meninggal
dalam keadaan gelisah
5. Setelah
meninggal akan terlahir dialam rendah, alam menderita, dialam neraka.
F.
Kesimpulan
Penjelasan
dalam tulisan ini memperlihatkan bahwa Sila
adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Sila
bukan hanya dapat mengurangi kemungkinan seseorang terjatuh ke alam yang
menyedihkan, alam sengsara, atau alam neraka; tetapi Sila juga dapat memberikan manfaat yang banyak sekali bagi
pelaksananya. Diantaranya adalah :
1. Mendapatkan
kekayaan yang berlimpah melalui usaha yang giat.
2. Reputasi
baiknya tersebar luas.
3. Penuh
percaya diri.
4. Meninggal
dengantenang.
5. Setelah
meninggal terlahir di alam yang baik-alam dewa.
Walaupun
demikian, janganlah merasa puas hanya karena dapat mematuhi Sila, tetapi gunakanlah kesempatan mulia
ini (terlahir sebagai manusia) untuk meningkatkan kualitas kesempurnaan (Parami) lebih jauh lagi. Caranya antara
lain adalah dengan mengkombinasikan pelaksanaan Sila dengan pengembangan cinta kasih universal (Metta), kemurahan hati (Dana), perasaan puas (Appicchata), kejujuran (Sacca), dan kebijaksanaan (Panna).
Sekali
lagi, Sila saja tidaklah cukup, Sila dan Samadhi juga belum cukup, tetapi harus ketiga-tiganya yaitu Sila, Samadhi, dan Panna.
Semoga kita semua dapat melakukan perjuangan ini dengan baik, cepat, dan lancar.
Semoga dengan usaha terbaik ini, Nibbana dapat
dicapai di kehidupan ini juga.
Wejangan-wejangan Sang
Buddha yang Berhubungan dengan Sila
“Dia yang belum terbebas dari kekotoran mental
(kilesa), yang tidak terjaga inderanya, dan tidak berbicara jujur, tidaklah
pantas mengenakan jubah kuning” (Dhamapada 9).
“Di kehidupan ini dia berbahagia, di kehidupan berikutnya
dia berbahagia, pelaku kebajikan berbahagia di kehidupannya. Dia berbahagia dan
sungguh berbahagia ketika dia melihat kemurnian tindakannya” (Dhammapada 16).
“Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin, begitu
juga harumnya kayu cendana, bunga tagara, dan melati; hanya keharuman orang bermoral
(berbudi luhur) yang dapat melawan arah angin. Reputasi orang bermoral tersebar
ke segala penjuru”
(Dhammapada 54.)
“Dia yang melanggar hukum kejujuran, yang merupakan
pembohong, dan tidak peduli dengan kehidupan mendatang, tidak ada kejahatan yang
tidak berani dilakukannya. Hal yang senada juga dikatakan oleh sang Buddha di
Itivuttaka 25” (Dhammapada 176).
“Pembohong akan masuk neraka, pelaku kejahatan dan
berkata, ‘saya tidak melakukannya’ juga akan masuk neraka. Keduanya, sebagai
pelaku kejahatan, menderita hal serupa di kehidupan berikutnya” (Dhammapada
306).
“Jika ada sesuatu yang harus dikerjakan, kerjakanlah
dengan baik, mantap, dan penuh semangat; karena kehidupan kebhikkhuan yang
sekenanya (sembarangan) menebarkan banyak kekotoran mental (kilesa)” (Dhamapada
313).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar