Jumat, 13 Desember 2013

Sila Paramitha

A.                 Definisi  Sila
Sila atau moralitas berasal dari kata ‘Sila’ di dalam bahasa Pali. Definisi sederhana dari Sila adalah alat bantu yang digunakan oleh seseorang untuk dapat mempunyai sikap atau prilaku yang baik, yang bagus, yang murni, atau tidak tercela. Dengan kata lain, Sila dapat juga dikatakan sebagai alat pengendali yang digunakan agar terhindar dari perbuatan dan ucapan yang tidak terpuji. Sila berada pada posisi kedua dalam tiga landasan perbuatan berjasa (Punna-Kiriya-Vathu) yaitu dana (Dana), Sila atau moralitas (Sila), dan pengembangan mental/meditasi (Bhavana) atau bila di uraikan lebih detail menjadi sepuluh perbuatan berjasa.
 Di dalam tradisi buddhis, banyak dibicarakan tentang Sila dalam berbagai konteks yang terdapat dalam kitab-kitab. Buddhaghosa dalam kitab Visuddhimagga memberikan empat penafsiran mengenai Sila. Keempat penafsiaran itu adalah sebagai berikut:
1)         Menunjukkan sikap batin atau kehendak (Cetana).
Sila adalah Cetana yaitu Cetana yang berada pada orang yang menghindari perbuatan dan ucapan tidak terpuji yaitu membunuh, mencuri, melakukan perbuatan asusila, berbohong, memfitnah, bicara kasar, dan bergosip.
2)         Menunjukkan hanya penghindaran (Virati) yang merupakan unsur batin (Cetasika).
Sila adalah faktor mental (Cetasika) yaitu tiga Cetasika penghindaran (Virati) yaitu ucapan benar, perbuatan benar, dan penghidupan benar.
3)         Menunjukkan pengendalian diri (Samvara).
Sila adalah pengendalian (Samvara) yaitu melakukan pengendalian diri agar tidak terjadi pelanggaran. Ada lima macam pengendalian, yaitu :
a.       Pengendalian dengan 227 peraturan kebhikkhuan.
b.      Pengendalian dengan perhatian murni – Sati.
c.       Pengendalian dengan pengetahuan.
d.      Pengendalian dengan kesabaran.
e.       Pengendalian dengan usaha.
4)         Menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan (Avitikkama).
Sila adalah tanpa pelanggaran yaitu tidak melakukan pelanggaran melalui perbuatan ataupun ucapan terhadap peraturan yang sedang dijalani.
Sila Paramita merupakan perbuatan luhur tentang hidup bersusila, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik oleh badan (Kaya), ucapan (Vaci), dan pikiran (Citta). Pelaksanaan Sila Paramita merupakan pelengkap dari seorang Bodhisattva yang telah melaksanakan Dana Paramita. Pelaksanaan Sila Paramita ini dapat diumpamakan kaki ataupun mata,  tanpa kaki maka seseorang akan terjatuh ke dalam bentuk kehidupan yang penuh kejahatan, ataupun tanpa mata maka seseorang tidak akan dapat melihat Dhamma.
Terdapat tiga pengertian dalam menguraikan Sila Paramita, yaitu Kebajikan moral secara umum yang mana kepribadian mengagumkan merupakan ciri utamanya; Kebajikan moral yang dikaitkan dengan suatu cita-cita penyucian yang direalisasikan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan; Kebajikan moral yang dikaitkan dengan lima ajaran moral (Pancasila Buddhis) dan sepuluh jalan tindakan yang baik dan bermanfaat dan merupakan latihan moral kebajikan bagi umat awam.
Pelaksanaan Sila merupakan suatu usaha seorang Bodhisattva untuk memusnahkan seluruh tiga akar kesengsaraan atau tiga racun dunia, yaitu Lobha yaitu hawa nafsu, gairah, kesenangan perasaan; Dosa yaitu kebencian dan keinginan buruk; Moha yaitu kebodohan batin, khayalan, kebingungan mengenai pikiran. Dalam melatih Sila Paramita, maka terdapat sepuluh pantangan yang harus dijalankan seorang Bodhisattva, yaitu pantang membunuh makhluk hidup, pantang mencuri, pantang dari ketidak-sucian, pantang berbicara bohong, pantang memfinah, pantang berbicara kasar, pantang terhadap kesembronoan dan berbicara yang tidak berarti, pantang terhadap sifat iri hati, pantang terhadap sifat dengki, dan pantang dari pandangan salah
Ciri dari Sila adalah ketertiban dan ketenangan. Sila dengan jalan apapun dijelaskan selalu menampilkan ciri ketertiban dan ketenangan yang terpelihara dan dipertahankan dengan pengendalian perbuatan jasmaniah, ucapan dan pikiran. Fungsi Sila yaitu menghancurkan kelakuan yang salah (Dussiliya) dan menjaga seseorang agar tetap tidak bersalah (Anvajja). Wujud dari Sila adalah kesucian (Soceyya). Kita mengenal seseorang dengan melihat rupanya, demikian pula kita mengenal Sila dengan wujudnya yang suci dalam perbuatan jasmaniah (Kaya-Socceya), ucapan (Vaci-Socceya) dan pikiran (Mano-Soceyya).
Sebab terdekat yang menimbulkan Sila adalah adanya Hiri dan Ottapa. Hiri adalah ‘malu berbuat salah’ dan Ottapa adalah ‘takut pada akibat perbuatan salah’. Hiri-Ottapa adalah pelindung dunia (Lokapaladhamma). Jika tidak ada lagi Hiri-Ottapa, dalam diri akan berkecamuk kekacauan yang akan merugikan diri sendiri dan masyarakat luas. Sebaliknya, bila terdapat Hiri dan Ottapa, dunia ini penuh dengan ketentraman dan kedamaian.

B.                 Manfaat Melaksanakan Sila
Faedah Sila banyak disebutkan dalam khotbah-khotbah Sang Buddha, diantaranya yang paling banyak disebut adalah ketiadaan-penyesalan (Avippatisara). Batin yang bebas dari penyesalan akan mendapatkan ketenangan dan akan mudah mencapai Samadhi. Dalam Anguttara Nikaya IV (99). Sang Buddha bersabda kepada Ananda  sebagai berikut:
“Ananda! Sila memiliki tiada penyesalan sebagai tujuan dan buahnya.”
Dalam Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha bersabda kepada Gharavasa (perumah tangga) tentang faedah dari Sila, sebagai berikut:
a)      Sila menyebabkan seseorang memiliki banyak harta kekayaan.
b)      Nama dan kemashyuranya akan tersebar luas.
c)      Dia menghadiri setiap pertemuan tanpa ketakutan atau keraguan-raguan, karena ia menyadari bahwa ia tidak akan dicela atau didakwa orang banyak.
d)     Sewaktu akan meninggal dunia hatinya tentram.
e)      Akan terlahir dalam alam surga.
Selain itu, dalam Theragatha, yang terdapat dalam kitab Khuddaka Nikaya, Silava Thera mengatakan:
“Orang bijaksana yang mendambakan tiga macam kebahagiaan: kemasyhuran, kekayaan, dan kebahagiaan kehidupan surga hendaknya memelihara sila.”
Faedah Sila yang lain ialah menjadi orang yang dicintai oleh makhluk-makhluk lain sebagai awalnya. Dalam Akankheyya Sutta yang terdapat dalam kitab Majjhima Nikaya, Sang Buddha bersabda:
“Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu berharap ‘semoga saya menjadi kecintaan, kesukaan, kehormatan, kepercayaan, kebanggaan, bagi sahabat-sahabat sepenghidupan suci’ hendaknya ia menyempurnakan sila-nya.”
Di samping itu dalam kitab Digha Nikaya II (69-70) Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu sebagai berikut:
            “Jika seorang bhikkhu ingin dicintai dan dihormati oleh sesama bhikkhu, dia harus menjalankan sila.”
Kutipan-kutipan tersebut di atas merupakan sebagian kecil tentang faedah dari Sila yang dibabarkan oleh sang Buddha sendiri. Dari babaran itu terlihat bagaimana pentingnya Sila dalam kehidupan dan dasar penghidupan yang jujur serta merupakan tangga untuk mencapai kehidupan surga. Namun demikian, tujuan tertinggi pengembangan Sila adalah jalan untuk menacapai Nibbana.
Sila dari seseorang dikatakan tidak bersih apabila Sila itu telah dilanggar dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan Sila itu sendiri. Bagaimanapun terjadinya pelanggaran itu, godaan adalah akar dari pelanggaran Sila sehingga Sila itu menjadi tidak bersih. Noda dari Sila tidak dapat dihilangkan dengan mencucinya dengan air sebanyak tujuh samudara. Noda itu tidak dapat dihilangkan dengan apapun, kecuali dengan melaksanakan Sila. Sebaliknya, Sila dikatakan bersih apabila tidak ada pelanggaran Sila. Dalam Sutta-Sutta disebutkan bahwa kesucian Sila dapat dipertahankan dengan menyadari bahaya dari pelanggaran Sila dan manfaat mempertahankan Sila.
Dari penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa pelaksanaan Sila untuk menghindari terjadinya pelanggaran memberikan banyak sekali manfaat. Namun demikian, untuk membuat seseorang menjadi lebih baik, seseorang harus mengembangkan lima hal di bawah ini.
a.       Hal pertama adalah hal yang berhubungan dengan sila pertama (menghindari pembunuhan), yaitu mengembangkan cinta kasih universal (Metta).
b.      Hal kedua adalah hal yang berhubungan dengan sila kedua (menghindari pencurian), yaitu mengembangkan kemurahan hati/berdana (Dana).
c.       Hal ketiga adalah hal yang berhubungan dengan sila ketiga (menghindari perbuatan asusila), yaitu mengembangkan perasaan puas dan sedikit keinginan.
d.      Hal keempat adalah hal yang berhubungan dengan Sila keempat (menghindari berbohong), yaitu mengembangkan kejujuran.
e.       Hal kelima adalah hal yang berhubungan dengan Sila kelima (menghindari penggunaan zat yang dapat melemahkan kesadaran, yaitu mengembangkan kebijaksanaan.

C.        Macam – Macam Sila
Bila dilihat dari jumlah latihannya Sila terdiri dari 3 tingkatan, yaitu :
a.       Hina Sila atau Cula Sila
Adalah Sila yang jumlahnya kecil/sedikit, terdiri dari Pancasila dan Atthasila. Pancasila terdiri dari lima latihan kemoralan yang berisi tentang :
1.        Pānātipātā Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup).
Yang harus dihindari dalam Sila I adalah : membunuh manusia dan hewan, menyiksa manusia dan binatang, menyakiti (jasmani) manusia dan binatang.
2.      Adinnādānā Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan).
Yang harus dihindari dari Sila ke II adalah : merampok, korupsi, mencopet, manipulasi, penggelapan barang atau uang, berjudi, taruhan, dan sebagainya.
3.      Kāmesu Micchācāra Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila).
Yang harus dihindari dari Sila ke III adalah : melakukan hubungan kelamin yang buka suami/istri, berciuman dengan lain jenis ditempat ramai/sepi, mencolek, meraba lawan jenis dengan sengaja.
4.      Musāvāda Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar).
Yang harus dihindari dari Sila ke IV adalah : Menipu, memfitnah, omong kosong, menuduh dan sejenisnya.
5.      Surā Meraya Majja Pamādatthānā Veramani Sikkhapadam Samādiyāmi (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).
Yang harus dihindari dari Sila ke V adalah : menggunakan obat yang tidak seharusnya, minum-minuman yang menyebabkan ketagihan.

D.                Sila dalam Tipitaka dan Bentuk Sila
Dalam Kitab Tipitaka banyak kita jumpai Sutta-Sutta yang mengandung penjabaran tentang Sila, Samadhi dan Panna dalam bentuk tiga rangkaian latihan. 13 urutan pertama dan Sutta-Sutta di dalam Kitab Digha Nikaya adalah Sutta mengenai Sila, Samadhi dan Panna. Dari Sutta-Sutta tersebut terlihat bahwa Sila merupakan pengalaman mendasar dari agama Buddha, diantaranya dalam Brahmajala Sutta menyebutkan Cula Sila, Majjima Sila dan Maha Sila yang senantiasa dilaksanakan dan tidak dilanggar oleh Sang Buddha. Dalam Samannaphala Sutta disebutkan bahwa seorang Samana harus sempurna terlatih dalam Sila, terkendali indriya-indriyanya dan memiliki kewaspadaan dan memiliki pengertian benar tentang fenomena alam. Dalam Ambattha Sutta secara panjang lebar Sang Buddha menjelaskan kepada Brahmana Ambattha tentang Vijja (Abhinna) dan Carana (perilaku yang baik). Vijja dan Carana menunjukan Samadhi dan Sila. Dalam Sonadanda Sutta disebutkan Sila membersihkan Panna dan Panna membersihkan Sila. Di dalam Sutta ini ditekankan lagi saling keterkaitan antara keduanya dan pentingnya latihan Sila sebelum seseorang memulai latihan Samadhi.
Dalam Raithavinita Sutta, Tisso Sikkha dijelaskan dalam bentuk tujuh kesucian (Satta Visuddhiyo), yaitu;
1.      Kesucian Sila (Sila Visuddhi)
2.      Kesucian Manas (Citta Visuddhi)
3.      Kesucian Pandangan (Ditthi Visuddhi)
4.      Kesucian dalam melenyapkan keragu-raguan (Kankha Vitarana Visuddhi)
5.      Kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari jalan yang benar dan yang salah (Maggamagga Nanadassana Visuddhi)
6.      Kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari kemajuan (Patipada Nanadassana Visuddhi)
7.      Kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari jalan suci Magga Nana Visuddhi).
Sila Visuddhi dan Citta Visuddhi masing-masing merupakan Sila dan Samadhi, sedangkan kelima Visuddhi lainnya merupakan Panna. Dalam Visuddhi Magga dan Vimutti Magga dijumpai penjabaran terinci tentang ketujuh Visuddhi tersebut. Kitab Visuddhimagga terdiri dari 223 Bab untuk Sila dan Dutangga, 11 Bab berikutnya untuk Samadhi dan 10 Bab terakhir untuk Panna. Dalam kitab Buddhis disebutkan demikian banyaknya Sila yang diamalkan oleh umat Buddha yang kemampuan, kesempatan dan tingkat perkembangan batin mereka berbeda-beda. Dalam Visuddhimaggasila-Sila itu dikelompokkan atas beberapa bagian dan diterangkan secara terinci agar mendapat gambaran seberapa jauh Sila itu dihayati dan diamalkan oleh umat Buddha. Namun, dalam klasifikasi-klasifikasi itu tetap terkandung pengertian bahwa Sila menimbulkan harmoni dalam batin dan mendukung tercapainya batin yang luhur. Sila itu sebenarnya hanya satu macam, tetapi bila dipandang dari berbagai aspek kelihatannya beraneka ragam.
Sila merupakan segi mendasar dalam agama Buddha yang mencakupi, pertama ialah batin yang dibangun dengan menghindari perbuatan buruk dan kedua ialah pikiran yang berhubungan dengan pelaksanaan peraturan-peraturan yang berperan untuk kebersihan Sila. Dengan kata lain Sila itu mempunyai dua aspek, yaitu aspek negatif (Varitta Sila) dan aspek positif (Caritta Sila). Varitta Sila menekankan pada tidak melakukan perbuatan buruk dan Caritta Sila menekankan perlunya seseorang menimbun perbuatan baik dan melaksanakan apa yang merupakan kewajibannya. Setiap rumusan Sila mempunyai kedua aspek tersebut. Misalnya, antara lain dalam Digha Nikaya (I, 63).
"(i)Ia menghindari pembunuhan, membuang pentungan dan pedang; (ii) Ia hidup dengan penuh cinta kasih dan welas asih demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk"
Bagian pertama (i) sabda Sang Buddha tersebut diatas mengajarkan orang untuk tidak melakukan pembunuhan; bagian kedua (ii) menyayangi semua mahkluk dan meningkatkan kebahagiaan mereka. Dari sini dapat dilihat bahwa aspek negatif adalah pendahulu dari aspek positif, tetapi kedua-duanya saling bergantungan. Aspek negatif merupakan persiapan dan menyiapkan lahan yang baik untuk aspek positif. Seumpama seseorang yang akan menanam padi di sawah, maka sebelum menanam padi ia terlebih dahulu harus membersihkan sawahnya dari rumput-rumput agar padinya dapat tumbuh dengan baik dan memberikan mereka hasil yang diharapkan. Aspek negatif mempunyai nilai menjauhkan pikiran dan objek yang bukan kebaikan dan aspek positif memusatkan seluruh pikiran pada kebaikan, sehingga semaksimal mungkin dapat melakukan kewajiban.
Bentuk dari Sila ialah Pakati Sila dan Pannati Sila. Pakati Sila adalah Sila alamiah, yang bersifat moral dan terdapat hampir semua agama serta berlaku dimana-mana tanpa dibatasi oleh waktu, misalnya Pancasila. Pannati Sila adalah Sila yang dirumuskan oleh Sang Buddha yang khusus diperuntukan bagi cara hidup dan tujuan hidupnya yang istimewa. Pakati Sila bila dilanggar, baik oleh Bhikkhu atau Gharavasa dan akan berakibat buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang, misalnya membunuh mahkluk hidup. Sedangkan Pannati Sila bila dilanggar oleh Gharavasa tidak dicela atau tidak akan berakibat buruk. Akan tetapi, bila dilanggar oleh seorang Bhikkhu maka ia akan dicela oleh para bijaksana. Misalnya, apabila makan-makanan diluar waktu yang ditetapkan atau melihat tontonan bagi seorang gharavasa tidak dicela atau akan berakibat buruk.
Sila dalam pengertian yang luas adalah menghilangkan pembawaan yang tidak baik seperti keserakahan, itikad buruk, iri hati, namun sebaliknya harus  menimbun perbuatan baik seperti berdana, itikad baik, kesediaan untuk memanfaatkan, dan lain-lain.  Rumusan Pancasila, Atthasila, dan Dasasila adalah Sila dalam aspek negatif yang merupakan latihan untuk memiliki  Sila dan sebagai tahap dasar guna pengembangan batin agar dapat mencapai tujuan tertinggi.

E.                 Pelanggaran Sila dan Akibatnya
Pelanggaran Sila dapat terjadi dengan dua cara yaitu pelanggaran melalui ucapan dan melalui tindakan jasmani. Selain itu, pelanggaran Sila juga dapat terjadi berdasarkan perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri atau dilakukan melalui orang lain (maksudnya meminta orang lain melakukannya). Untuk pelanggaran yang dilakukan melalui orang lain berarti pelanggaran tersebut terjadi melalui ucapan. Khusus untuk Pancasila, pelanggaran terjadi bila semua faktor-faktor untuk terjadinya pelanggaran Sila terpenuhi, bukan berdasarkan apakah seseorang telah berjanji melaksanakan Sila atau tidak.
            Untuk mengetahui apakah pelanggaran Sila telah terjadi atau belum, pengetahuan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran dari masing-masing Sila sangat dibutuhkan. Dalam hal ini hanya akan di uraikan faktor-faktor pelanggaran untuk lima Sila (Pancasila).
1.      Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila pertama :
a.       Adanya makhluk hidup (Pano).
b.      Mengetahui bahwa makhluk itu hidup (Panasannita).
c.       Ada niat untuk membunuh (Vadhacittam).
d.      Ada usaha untuk membunuh-termasuk meminta orang lain melakukannya (Upakkamo).
e.       Makhluk tersebut mati sebagai hasil pembunuhan (Tena Maranam).
Akibat dari membunuh yaitu umur pendek, berpenyakitan, dan senantiasa dalam kesedihan.

2.      Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila kedua :
a.       Adanya barang milik orang lain (Para-Parigga-Hitam)
b.      Mengetahui bahwa barang tersebut bukan miliknya (Para-Parigga-Hita-Sannita)
c.       Ada niat untuk mencuri (Theyya-Cittam).
d.       Ada usaha untuk mencuri-termasuk meminta orang lain melakukannya (Upakkamo),
e.       Didapatkannya barang tersebut melalui hasil pencurian (Tena Haranam).
Akibat mencuri yaitu hidup dalam kemiskinan, dinista dan dihina, dan hidup tergantung pada orang lain.
3.      Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila ketiga :
a.       Ada obyek untuk melakukan persetubuhan (Agamaniya Vathu).
b.      Ada niat untuk melakukan persetubuhan (tasmim sevana-cittam).
c.       Ada usaha untuk melakukan persetubuhan (Sevanappayogo).
d.      Terjadinya persetubuhan melalui usaha tersebut (Maggena Maggappatipattiadhivasanam).
Akibat berbuat asusila yaitu beristri/bersuami dengan orang yang tidak disenangi, terlahir dalam keadaan waria, dan memiliki banyak musuh.
4.      Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila keempat :
a.       Ada hal yang tidak benar (Atattham Vathu),
b.      Ada niat untuk berbohong (Visam Vadana-Cittam
c.       Ada usaha untuk menyampaikan kebohongan tersebut (Tajjo Vayamo),
d.      Ada orang lain yang mempercayai (Parassa Tadattha-Vijananam)
Akibat berbohong yaitu menjadi sasaran pembicaraan orang lain, tidak dipercaya ucapannya, sering dituduh yang bukan-bukan, akan kehilangan sahabat tanpa sebab yang berarti, bagian dari jasmani akan berfungsi tidak baik, dan menerima suara yang tidak enak didengar.
5.      Faktor-faktor pelanggaran untuk Sila kelima :
a.       Ada zat yang memabukkan (Mada-Niyam).
b.      Ada niat untuk mengkonsumsinya (Patu-Kamyata-Cittam).
c.       Ada usaha untuk mengkonsumsinya (Tajjo Yayamo).
d.      Zat tersebut tertelan (Pitappavesanam).
Akibat minum-minuman/makan obat terlarang yaitu dibicarakan banyak orang, kecerdasan menurun, dan selalu tergantung pada orang lain.
Selain akibat pelanggaran Sila yang telah tercantum diatas, terdapat empat macam bahaya akibat dari perbuatan buruk. Seseorang yang melanggar Sila berarti dia melakukan perbuatan buruk, maka secara umum pelanggar Sila akan menerima empat macam bahaya, yaitu:
1.      Attanuvada Bhaya
Bahaya akibat celaan dari diri sendiri atau menyalahkan diri sendiri. Walaupun orang lain tidak mengetahui bahwa seseorang telah melakukan suatu perbuatan buruk, tetapi dia mengetehui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan buruk. Seseorang tidak bisa membohongi diri sendiri. Maka, walaupun seseorang berusaha dengan keras untuk melupakan perbuatan buruknya, dia tidak akan berhasil (kecuali hanya untuk sementara waktu atau dia menjadi gila). Cepat atau lambat perbuatan buruk ini akan menghantui pikirannya.
2.      Paranuada Bhaya
Bahaya akibat celaan dari orang lain. Bila perbuatan buruk tersebut diketahui oleh orang lain, maka orang lain akan mencelanya, kemudian menghindarinya, mengucilkannya, atau bahkan melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
3.      Danda Bhaya
Bahaya akibat hukuman yang harus diterimanya. Bila perbuatan buruknya diketahui orang lain, akibat yang lebih berat dari bahaya yang kedua adalah orang yang mengetahuinya atau orang lain atau pihak yang berwajib akan menghukumnya. Pernah mendengar orang yang meninggal akibat dipukili masa hanya karena mencuri seekor ayam atau sepasang sandal? Bila dia tidak meninggal, dia kemungkinan akan dipenjara.
4.      Duggati Bhaya
Bahaya akibat terjatuh keempat alam rendah. Penderitaan yang akan diterima penghuni alam rendah jauh lebih berat daripada penderitaan terburuk yang manusia dapat alami. Binatang hidupnya selalu dipenuhi ketakutan akan dimangsa oleh binatang lain atau manusia. Hantu kelaparan, sesuai dengan namanya selalu mengalami rasa lapar yang sangat berat dan sangat sulit mendapatkan makanan. Mahkluk neraka adalah yang terparah dan penderitaan dialam neraka sangatlah sulit untuk dibayangkan.
Dalam Maha-Parinibbana Sutta (DN 16) Sang Buddha menyebutkan lima kerugian akibat pelanggaran Sila yaitu:
1.      Kehilangan banyak harta karena kelalaian.
2.      Mendapatkan reputasi buruk
3.      Merasa malu, canggung, tidak percaya diri dalam semua lapisan masyarakat
4.      Meninggal dalam keadaan gelisah
5.      Setelah meninggal akan terlahir dialam rendah, alam menderita, dialam neraka.

F.                 Kesimpulan
Penjelasan dalam tulisan ini memperlihatkan bahwa Sila adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Sila bukan hanya dapat mengurangi kemungkinan seseorang terjatuh ke alam yang menyedihkan, alam sengsara, atau alam neraka; tetapi Sila juga dapat memberikan manfaat yang banyak sekali bagi pelaksananya. Diantaranya adalah :
1.      Mendapatkan kekayaan yang berlimpah melalui usaha yang giat.
2.      Reputasi baiknya tersebar luas.
3.      Penuh percaya diri.
4.      Meninggal dengantenang.
5.      Setelah meninggal terlahir di alam yang baik-alam dewa.
Walaupun demikian, janganlah merasa puas hanya karena dapat mematuhi Sila, tetapi gunakanlah kesempatan mulia ini (terlahir sebagai manusia) untuk meningkatkan kualitas kesempurnaan (Parami) lebih jauh lagi. Caranya antara lain adalah dengan mengkombinasikan pelaksanaan Sila dengan pengembangan cinta kasih universal (Metta), kemurahan hati (Dana), perasaan puas (Appicchata), kejujuran (Sacca), dan kebijaksanaan (Panna).
Sekali lagi, Sila saja tidaklah cukup, Sila dan Samadhi juga belum cukup, tetapi harus ketiga-tiganya yaitu Sila, Samadhi, dan Panna. Semoga kita semua dapat melakukan perjuangan ini dengan baik, cepat, dan lancar. Semoga dengan usaha terbaik ini, Nibbana dapat dicapai di kehidupan ini juga.

























Wejangan-wejangan Sang Buddha yang Berhubungan dengan Sila

“Dia yang belum terbebas dari kekotoran mental (kilesa), yang tidak terjaga inderanya, dan tidak berbicara jujur, tidaklah pantas mengenakan jubah kuning” (Dhamapada 9).

“Di kehidupan ini dia berbahagia, di kehidupan berikutnya dia berbahagia, pelaku kebajikan berbahagia di kehidupannya. Dia berbahagia dan sungguh berbahagia ketika dia melihat kemurnian tindakannya” (Dhammapada 16).

“Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin, begitu juga harumnya kayu cendana, bunga tagara, dan melati; hanya keharuman orang bermoral (berbudi luhur) yang dapat melawan arah angin. Reputasi orang bermoral tersebar ke segala penjuru”
(Dhammapada 54.)

“Dia yang melanggar hukum kejujuran, yang merupakan pembohong, dan tidak peduli dengan kehidupan mendatang, tidak ada kejahatan yang tidak berani dilakukannya. Hal yang senada juga dikatakan oleh sang Buddha di Itivuttaka 25” (Dhammapada 176).

“Pembohong akan masuk neraka, pelaku kejahatan dan berkata, ‘saya tidak melakukannya’ juga akan masuk neraka. Keduanya, sebagai pelaku kejahatan, menderita hal serupa di kehidupan berikutnya” (Dhammapada 306).


“Jika ada sesuatu yang harus dikerjakan, kerjakanlah dengan baik, mantap, dan penuh semangat; karena kehidupan kebhikkhuan yang sekenanya (sembarangan) menebarkan banyak kekotoran mental (kilesa)” (Dhamapada 313).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar