Jumat, 13 Desember 2013

Maitreya Sutra

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang Pembabaran Sutra
Sutra ini dikotbahkan oleh Hyang Buddha kepada Y. A. Sariputra, ketika beliau mengunjungi suatu tempat  suci bernama gunung pasa yang sejak jaman dahulu selalu menjadi tempat berdiamnya mara jahat yang mengganggu para Buddha tetapi dengan kekuatan gaib para Buddha seluruh mara selalu dapat dikalahkan. Pada saat mengunjungi tempat ini Hyang Buddha mengingat keagungan para Buddha masa lampau dan beliau juga memahami tentang keagungan Buddha yang akan datang yang memiliki keagungan tak terbatas, setelah mengetahui tentang ucapan Buddha mengenai Buddha yang akan datang maka para Bhikku dan Umat memohon agar diberi penjelasan lengkap tentang Buddha yang akan datang. Saat pembabaran Sutra ini  dihadiri oleh para bhikku, bhikkuni, upasaka, upasika, para dewa dan 8 kelompok mahluk).
B.     Isi Sutra
Barang siapa pernah mendengar nama Buddha atau pernah
ber-anjali (bersujud dengan merangkapkan telapak tangan), atau pun
pernah memuja tujuh Buddha dari masa silam - yakni: Buddha Vipasyi,
Buddha Sikhi, Buddha Visabhu, Buddha Kakusandha, Buddha Kanakamuni,
Buddha Kasyapa, dan Buddha Sakyamuni, di dalam Vihara-Nya atau di
depan-Nya. Maka jasa-jasa mereka itu akan menghilangkan segala
penghalang yang ditimbulkan oleh karma buruk! Dan, jika sekarang mereka
dapat mendengar Dharma yang penuh Maha-Maitri-Karuna dari Sang Maitreya, maka mereka akan memperoleh sebuah hati yang suci.

Keadaan negeri Buddha Maitreya yang akan terwujud setelah 5.670.000.000 tahun:
Di negeri-Nya seluruh rakyat mempunyai penghidupan benar,
rajin serta disiplin. Tidak ada seseorang pun yang berkelakuan munafik
atau leceh-budi. Dan rakyat-Nya selalu menjalankan Dana-Paramita,
Sila-Paramita, serta Prajna-Paramita, sehingga pikiran mereka tidak
mudah digoda atau melekatkan nafsu keinginan duniawi rendah. Mereka
selalu berpegang pada prinsip Pranidhana-Maha-Dasa memegahkan dirinya.

Pranidhana-Maha-Dasa = 10 Janji Utama, yakni:
1. Hormat kepada para Buddha;
2. Memuji Buddha;
3. Memuja Buddha;
4. Bertobat;
5. Ikut-bergembira;
6. Memohon kepada Buddha untuk memutarkan Roda Dharma;
7. Memohon kepada Buddha menetap di alam semesta;
8. Tekun menuntut ajaran Buddha;
9. Mengabdi kepada segala makhluk, dan
10. Menyalurkan jasanya.
Wibawa yang mereka miliki dapat menaklukkan para makhluk
yang berhati keras menjadi berhati lembut. Inilah sebabnya sehingga
mereka mendapat kesempatan bertemu Sang Maitreya dan dilindungi oleh
Maha-Maitri-Karuna-Nya.
Kondisi dunia saat Buddha Maitreya dilahirkan di dunia
Jambudvipa (dunia yang dihuni umat manusia - zaman dahulu lazimnya
disebut daerah lingkungan kerajaan Hindu). Situasi dan kondisi dunia
Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang. Air laut agak susut
dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari ke 4 Lautan
masing-masing akan menyusut kira-kira 3 ribu Yojana (satu Yojana lebih
kurang 20 km), Bumi Jambudvipa dalam 10 ribu Yojana persegi - persis
kaca dibuat dari permata lazuardi dan, permukaan buminya demikian rata
dan bersih. Taman Bunga serta bermacam-macam kebun raya terdapat di
mana-mana dan banyak ditanami dengan bunga Maha-Mandarawa, bunga Sumana,
bunga Mahagandhamadanamala, bunga Ulpala, bunga Maha-Suvarnaphala,
Saptaratnaphala, Rupyaphala, dan bunga-bunga lainnya. Kuncup bunga dan
kelopaknya seperti anyaman sutera, lembut sekali! Dan, Buahnya pun
sedemikian lembut, halus, rasanya amat enak dan harum, namanya
Mangala-Phala. Adapun pohon-pohon yang berada di dalam taman atau yang
tumbuh di dalam hutan itu, semuanya demikian suburnya. Tingginya
mencapai 30 Li, dan panoramanya jauh lebih indah daripada Taman
Nandanavara yang dimiliki oleh Raja Sakra Dewa Indra di Sorga
Trayastrimsa. Dan, antara ibukota dengan kota-kota yang lain jaraknya
dekat sekali, hingga seekor ayam dapat terbang dari satu kota ke kota
lain! Rakyatnya memiliki kebijaksanaan, etika, dan moral yang luhur.
Mereka selalu menikmati 5 macam kesenangan dan berbagai perabot yang
modern dan canggih. Lingkungannya amat aman dan tentram. Kesehatan dari
semua rakyat juga terjamin! Tidak ada penyakit seperti demam, influensa,
masuk angin atau radang dalam atau luar bagaikan dibakar api. Mereka
juga terhindar dari 9 macam Klesa dan Duhkha, atau disebut penderitaan
dari penyakit dingin, panas, lapar, haus, berak, kencing, nafsu
keinginan, makan-minum, dan usia pendek. Usia mereka lazimnya mencapai
84.000 tahun dan tidak ada seorang pun yang mati muda. Tinggi badannya
mencapai 160 kaki. Penghidupan sehari-harinya amat bahagia, dan setiap
hari mereka melakukan Samadhi luhur sebagaimana suatu alat penikmatan!

Hanya saja mereka masih terikat 3 macam penderitaan yakni: Setiap hari
masih harus makan-minum; Setiap hari masih harus membuang air besar dan
kecil, dan adanya kekhawatiran akan usia-lanjut. Dan, para gadis-gadis
biasanya baru menikah setelah usianya mencapai 500 tahun.
Di negeri Buddha Maitreya terdapat satu kota besar yang bernama Ketumat,
luasnya mencapai 1200 Yojana, tingginya mencapai 7 Yojana.
Bangunan-bangunan yang berada di dalam kota besar itu, menggunakan bahan
sintetis dari Saptaratna atau disebut 7 jenis permata, yakni: emas,
perak, lazuardi, kristal, indung-mutiara, mutiara-merah, dan akik. Semua
berdiri secara spontan, amat indah dan megah! Baik gedung bertingkat
tinggi, istana mewah, atau pun pagoda yang menjulang ke langit, semuanya
demikian rapi, mewah, unik, indah, dan bersih! Juga terdapat banyak
Ratnaputri (gadis-permata) yang dipasang di antara jendela-jendela besar
itu, tiap-tiap gadis-permata memegang sepasang jaring yang dihiasi penuh
dengan mutiara atau permata, dan jaring sutera itu dibentangkan di atas
bangunan-bangunan mewah itu, saat jaring itu digerakkan angin semilir,
lonceng-loncengnya berbunyi, suaranya seperti musik Sorga. Jajaran
pohon-pohon dari 7 macam permata terdapat banyak dengan sungai kecil
terletak di tengahnya. Sumber air dari induk permata berupa-rupa warna.
Meskipun arus air tak teratur turun-naik, simpang-siur, namun warnanya
tetap demikian terang tanpa dipengaruhi arus sedikit pun! Pinggiran
sungainya ditaburi pasir berwarna emas, sehingga kelihatan demikian
indah dan bersih! Jalan raya dan persimpangan jalan yang menuju ke huma
lebarnya mencapai 12 Li, semuanya demikian rata dan bersih, bagaikan
Taman Sorga yang dihiasi penuh dengan permata!

Di dekat kota Ketumat terdapat sebuah Kolam Naga, istana dari Raja Naga
itu megah sekali dan seperti gedung mewah yang dibuat dari Saptaratna.
Istana tersebut kadang-kadang dapat terlihat berada di tengah-tengah
Kolam Naga itu. Raja Naga tersebut bernama Tarasikhi, ia berwibawa, amat
perkasa dan memiliki banyak kebajikan; ia selalu menjelma menjadi
manusia pada malam hari, membawa sebuah Kundika-Sri (botol Dewa), yang
penuh berisi air wangi yang berwarna untuk menyiram seluruh bumi yang
telah dikotori oleh debu-debu, agar tanahnya selalu basah dan mengkilap
bagaikan habis disemir dengan minyak penggosok sehingga orang yang
berlalu lalang di sana tidak dikotori oleh debu sedikit pun. Semua ini adalah berkat kebajikan yang diperoleh dari masa ke masa oleh
para umat di situ.
Pada setiap jalan raya atau persimpangan jalan yang menuju ke huma itu,
terpancang tiang lampu yang disebut Manidipa, tingginya juga 12 Li, dan
terangnya jauh lebih terang daripada sinar matahari, menyinari 4 penjuru
hingga 8 Yojana. Sinar lampu-lampu itu berwarna kuning emas sejati. Pada
siang dan malam hari sinarnya tetap terang tak berubah sedikit pun,
sehingga lampu-lampu dari jenis apa pun sinarnya akan menjadi seperti
warna tinta hitam, sulit diperbandingkan dengannya!

Saat angin harum bertiup dan menggerakkan tiang Manidipa banyak untaian
kalung permata turun ke bumi seperti hujan, siapa yang menggunakan
kalung tersebut untuk menghiasi pakaiannya, pasti merasa seakan-akan
dirinya sedang menikmati kebahagiaan di Sorga Trityadhyanabhumi.
Di seluruh negeri-Nya terdapat tumpukan tambang permata, yaitu: emas,
perak, berupa-rupa mutiara, Maniratna dan sebagainya, semua bagaikan
gunung kecil dan tinggal dipergunakan siapa saja. Gunung permata itu
selalu memancarkan sinar dan sinarnya terus menyinari setiap kota,
berkat sinar permata itu rakyatnya merasa amat gembira hingga terus
membangkitkan Bodhicittanya.
Di negeri-Nya terdapat seorang Dewa Maha Yaksa yang bernama
Bhadrapalasasaka. Beliau adalah Dewa Pelindung kota Ketumat siang dan
malam. Semua warga kota demikian rajin menjaga kebersihan di lingkungannya.

Tanahnya pun amat gaib, bila ada kotoran seperti air kencing, tinja, dan
sebagainya ada di atas tanah maka tanahnya segera membelah sehingga
kotoran apa pun akan terserap sampai bersih total, kemudian celah
tersebut akan menutup kembali secara otomatis, dan di atas celah itu
akan tumbuh bunga Padma secara spontan untuk menghapus bau kotoran.

Para manusia yang telah mencapai masa lanjut-usia, tetap dapat keluar
rumah dan mengunjungi tempat yang sunyi ke dalam hutan, atau ke bawah
keteduhan pohon, di sana mereka dapat duduk dengan tenang di dalam
pondoknya, kemudian dengan suasana sangat aman dan tentram tanpa
diganggu apa pun, mereka dapat mengadakan perenungan terhadap Buddha dan menghayati Sutra-Sutra hingga hidupnya berakhir secara wajar. Setelah
meninggal dunia mereka akan dilahirkan di Sorga Maha Brahma atau di alam
suci di sisi para Buddha.
Situasi di Negeri yang dikuasai oleh Sang Maitreya itu sangat aman dan
tentram, sama sekali tidak ada permusuhan, pencurian, dan perampokan.
Rumah-rumah yang berada baik di kota atau di desa-desa tak usah ditutup
pintunya. Rakyatnya jarang ditimpa penderitaan seperti keruntuhan, rasa
gelisah, atau bencana banjir, kebakaran dan peperangan. Juga tidak ada
kelaparan, keracunan, dan pembunuhan. Rakyatnya semua memiliki perasaan
iba serta amat berwelas asih, sopan, rendah hati, harmonis, dan patuh.
Mereka selalu mengendalikan diri sendiri agar ke-6 inderanya selalu
dalam keadaan suci dan bersih. Ucapannya amat fasih dan sedap didengar.
Di antara mereka satu sama lain saling menyayang bagaikan orang tua
dengan anaknya, seperti anak yang mencintai orangtuanya

Kekuatan gaib Bodhisatva Maitreya:
Setiap ruas tulang mengandung tenaga jauh lebih besar dari Sang Naga atau seekor gajah yang buas. Pori-Nya dapat mengeluarkan cahaya dan cahaya-Nya terus memancar ke seluruh dunia yang jauh tanpa halangan sedikitpun, sehingga sinar dari matahari, bulan purnama, bintang terang, sinar air, api, mutiara, dan sebagainya semuanya seperti tertutup oleh debu, tak bercahaya sedikitpun.
Badan Hyang Buddha Maitreya tinggi-Nya dari badan Buddha Sakyamuni lebih 80 Hastaka (1 hastaka = 46 cm), luas dada-Nya 25 Hastaka, panjangnya raut muka 12,5 Hastaka, dan hidungnya  amat lurus, tinggi, dan panjang, cocok sekalli, menonjol ditengah-tengah raut muka-Nya. Baik jasmani maupun rupa-Nya demikian sempurna. Keindahan organ dari kelima indera-Nya itu, tak ada seorangpun yang pantas diperbandingkan! Beliau bukan saja telah memiliki 32 ciri-ciri tanda fisik bagus, selain keelokan rupa-Nya mengandung 84.000 jenis tanda bagus untuk memegahkan badan-Nya. Apabila kita hanya melihat badan-Nya sepintas pasti kita akn menyangka bahwa ia adalah satu Buddha rupang yang terbuat dari emas sejati! Setiap tanda bagus itu dapat memancarkan cahaya yang amat terang benderang dan sinar-Nya dapat menyinari hingga ribuan Yojana.
Kedua mata dari Buddha Maitreya amat terang dan bersih, hijau serta bening sekali; seluruh badan Hyang Buddha selalu diiringi sinar hidup dan diameternya kira-kira seratus Yojana. Maka, baik matahari, bulan, bintang, mutiara maupun jajaran pepohonan dari tujuh permatapun tampak di dalam sinar hidup dari Hyang Buddha itu, sehingga sinar dari benda-benda tersebut semua sudah tidak ada reaksinya lagi!
Karena badan Maitreya yang demikian tinggi dan terang, bagaikan sebuah gunung emas, siapa saja yang berkesempatan untuk melihat badan-Nya pastilah mereka akan terbebas dari 3 alam Penderitaan (Tridusgati = neraka, alam hantu kelaparan, dan binatang).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar