Jumat, 13 Desember 2013

perkembangan manusia

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Perkembangan
Perkembangan menurut Santrock adalah pola perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut sepanjang hayat. Kebanyakan perkembangan adalah pertumbuhan, meskipun harus mengalami penurunan (kematian).
Perkembangan menurut Woolflok adalah perubahan-perubahan tertentu yang terjadi pada manusia (atau binatang) diantara konsepsi dan kematian
Menurut Hurlock perkembangan bersifat kualitatif dan kuantitatif, artinya proses perkembangan ada yang dapat diukur dan adapula yang tidak dapat diukur. Misalnya perkembangan otak manusia tidak dapat kita lihat proses perkembangannya, yang kita lihat adalah gejala-gejalanya.
Berdasarkan beberapa definisi para ahli di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa perkembangan adalah proses perubahan tertentu yang terjadi pada manusia (atau binatang) yang dimulai sejak manusia lahir dan berlangsung sepanjang hayat yang prosesnya dapat kita kenali dengan melihat gejala-gejalanya.
Menurut Anita Woolfolk, Perkembangan manusia dapat dibagi menjadi sejumlah aspek yang berbeda. Perkembangan fisik; berhubungan dengan perubahan-perubahan tubuh. Perkembangan pribadi; berhubungan dengan perubahan-perubahan kepribadian individu. Perkembangan sosial; mengacu pada perubahan-perubahan dalam cara individu berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kognitif; mengacu pada perubahan-perubahan dalam berfikir.

2.      Proses Perkembangan Manusia
Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang sejak kelahiran hingga kematian.
1.    Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.
Kekuatan dasar: Dorongan dan harapan
Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih sayang secara tetap.


2.   Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
Hasil perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)
Kekuatan dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan
Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat dihargai: toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah. Salah satu ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK. Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk pengembangan semangat dan kemauan.
Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.
3.    Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
Hasil perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
Kekuatan dasar: Tujuan
Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan seorang anak:”KENAPA?”
Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki) juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal struggle”. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan perasaan bersalah.
4.   Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun
Hasil perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)
Kekuatan dasar: Metode dan kompetensi
Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti, berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan berkembang.
Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.
Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal.
5.   Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun
Hasil perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)
Kekuatan dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)
Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung padaapa yang saya kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral.
Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran.
Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman.
6.   Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun
Hasil perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)
Kekuatan dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)
Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.
Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego.
Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7.   Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65 tahun
Hasil perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation
Kekuatan dasar: production and care (produksi dan perhatian)
Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama.
Tugas yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.
Sementara itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau stagnasi.
8.   Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati
Hasil perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)
Kekuatan dasar: wisdom (kebijaksanaan)
Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.
3.      Perkembangan Otak (kognitif) manusia
Otak manusia merupakan organ tubuh utama yang terletak di ujung atas dari sumsum tulang belakang. Otak adalah sekumpulan neuron. Pengorganisasian otak manusia akan lebih di pahami jika sejalan dengan proses perkembangannya. Otak manusia di bagi kepada 3 bagian yaitu forebrain (otak depan), midbrain (otak tengah), hindbrain (otak belakang).
Otak depan berkembang secara perlahan-lahan, bila kemampuan manusia untuk memeperoleh informasi semakin meningkat dalam jumlah dan mutu maka otak depan akan semakin besar. Dan pada waktu bersamaan otak tengah akan mengurangi besarnya sedangkan otak belakang akan tetap dalam kondisi semula.
Otak tengah terletak antara otak depan dan otak belakang yang berfungsi untuk menerima informasi sensorik dan mengendalikan beberapa otot. Otak belakang berfungsi untuk menahan pengendalian utama terhadap kegiatan-kegiatan tubuh yang vital. Seperti pencernaan, peredaran darah, pernafasan.
Geografi otak
a.    Bagian permukaan (korteks/Kulit). Bagian hemisfer terdiri atas:
1)   daerah broca, yang menghasilakn kemampuan bicara
2)   bagain motorik (korteks motor), yang menghasilkan motor , misalnya mulut
3)   daerah wernicke, yang menghasilkan memahami bahasa
4)   bagain penglihatan, yang di sebut juga dengan korteks visual.
b.   Penampang inferior otak, yang menunjukan struktur fungsi dasarnya sebagai berikut: thalamus yakni simpangan syaraf dan ingatan, hipotalamus, yakni emosi , rasa panas tubuh dll. Pitutari yakni kelenjar utama. Lobus limbic, yakni emosi. Sereblum yaki koordinasi gerakan, pons yakni penghubung system saraf pusat dengan sereblum, medulla oblongata, yakni aktifitas otomatis, seperti jantung, nafas dan pencernaan
b.    Otak terdiri dari dua bagian yaitu hemisfer kanan dan kiri
1)   hemisfer kanan, mengontrol bagain kiri tubuh, yang memiliki kemampuan melihat ruang (misalnya menggambar , menggunakan peta dan mempersepsikan pola)
2)   hemisfer kiri, mengontrol bagian kanan tubuh, yang memiliki kemampuan berbahasa yaitu memahami dan menghasilkan pembicaraan
Jumlah dan ukuran saraf otak akan selalu bertambah sampai usia remaja. Beberapa penambahan ukuran otak juga disebabkan oleh myelination, sebuah porses dimana  sel otak dan system saraf diselimuti oleh lapisan sel-sel lemak yang bersekat-sekat yang menambah kecepatan arus informasi di dalam sel  saraf.
 Perkembangan otak dalam tingkat sel adalah peningkatan jumlah. Synapse adalah jarak antar neuron tempat terbentuknya koneksi. Koneksi yang dibentuk dua kali lebih banyak dibanding dengan koneksi yang dipakai. Koneksi yang digunakan akan menguat, sementara koneksi yang tidak termanfaatkan akan digantikan dengan koneksi lain atau lenyap (dipangkas).
Ukuran  keseluruhan otak tidak berubah dari usia tiga sampai lima belas tahun. Akan tetapi, pertumbuhan cepat dalam frontal (frontal lobes), khususnya yang berhubungan dengan perhatian dari usia 3 sampai  6 tahun.
Pertumbuhan yang cepat dalam temporal  tempat pemprosesan bahasa, memori jangka panjang, dan pariental berkembang pada usia 6 th sampai puber.
      Perkembangan Kognitif
a. Menurut Piaget
Piaget menyatakan bahwa perkembangan bergantung sebagian besar pada manipulasi anak terhadap dan interaksi aktif dengan lingkungan. Teori perkembangan piaget menyatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan kognisi seorang anak mengalami kemajuan melalui 4 tahap, yaitu:
1) Tahap sensori motor (pada saat lahir hingga usia 2 tahun)
Pada tahap ini bayi menggunakan indra mereka dan kemampuan motorik mereka dalam mengenal dunia. Pada awalnya semua bayi memiliki prilaku bawaan yang disebut dengan gerak refleks. Dengan gerak ini bayi menghasilkan pola-pola prilaku yang lebih menarik dan intensional. Pembelajaran ini pada awalnya terjadi secara kebetulan kemudian berkembang menajdi intensional
Menurut Piaget pada tahap akhir sensori motor, anak-anak telah melangkah dari tahapan uji coba ke pendekatan yang lebih terencana terhadap pemecahan masalah.
Pertanda sensorimotorik lainnya adalah perkembangan pemahaman mengenai objek. Piaget berpendapat bahwa anak-anak harus belajar bahwa objek bersifat stabil secara fisik dan tetap ada sekalipun objek tersebut tidak ada dalam kehadiran fisik anak tersebut (object permanence)
2) Tahap pra operasional (usia 2 hingga 7 tahun)
Anak pada tahap ini mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk memikirkan segala sesuatu dan dapat menggunakan simbol untuk melambangkan objek dalam fikiran.  
Karakteristik anak pada tahap ini yaitu:
a) Keterpusatan (concentration); anak hanya memberikan perhatian pada satu aspek situasi, atau kurangnya konservasi. Yang dimaksud yaitu ide bahwa karakteristik objek tetap sama meskipun objek tersebut berubah penampilannya.
b) Tidak reversibilitas (reversibility);  artinya pengetahuan anak tidak dapat timbal balik (kembali ke titik semula) atau anak tidak mampu melakukan “ operasi” seperti pengetahuan orang dewasa.
Pemikiran pra operasional dapat di bagi menjadi 2 sub tahap:
a)  Tahap pertama: fungsi simbolis
Tahap ini terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun. Pada tahap ini anak secara mental dapat mempresentasikan objek yang tidak hadir. Penggunaan bahasa yang mulai berkembang dan kemunculan sikap bermain adalah contoh dari tahap ini.
Namun demikian pemikiran pra-operasinal pada tahap ini masih mengandung 2 keterbatasan yaitu egoisentrisme dan animisme. Egoisentrisme adalah ketidakmampuan untuk membedakan antara prespektif milik sendiri dan prespektif orang lain. Animisme adalah kepercayaan bahwa objek yang tidak bernyawa memiliki kualitas “kehidupan” dan bisa bergerak.
b)  Tahap kedua : pemikiran intuitif
Dimulai pada usia 4 sampai 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin mengetahui semua jawaban pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai “intuitif” karena anak tampaknya memiliki keyakinan terhadap pengetahuan dan kemampuan mereka. Tetapi tidak menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa yang mereka ingin ketahui.
3)   Tahap operasional kongkret (usia 7 sampai 11 tahun)
Pemikiran operasional kongkret mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi kongkret. Kemampuan dalam melakukan penggolongan sudah ada tapi belum bisa memecahkan persoalan dalam kondisi abstrak. Pada tahap ini terjadi peralihan dari pemikiran egoisentris ke pemikiran yang tidak terpusat atau objektif.
Tugas penting dalam tahap operasional kongkret yaitu pengurutan (seriation), atau menyusun sesuatu dalam deret logis. Begitu kemampuan ini diperoleh maka anak dapat menguasai transitivitas (transitivity) yaitu kemampuan menghubungkan antara dua objek berdasarkan pengetahuan tentang hubungannya masing-masing dengan objek ketiga.
4)    Tahap operasional formal ( usia 11 tahun hingga dewasa)
Pada tahap ini individu sudah mulai memikirkan pengalaman di luar pengalaman konkrit , dan memikirkannnya secara lebih abstrak, idealis dan logis. Kualitas berfikir abstrak terlihat dalam pemecahan problem verbal.
Selain itu pemikir operasional formal memiliki kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan atau berspekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan orang lain.
Piaget menyatakan bahwa pada tahap operasional formal ini dikenal “ penalaran- hipotesis – deduktif” artinya remaja dapat menyusun hipotesis tentang cara memcahkan problem dan mencapai kesimpulan secara sistematis.
Selain itu pada tahap ini muncul egiosentrisme, yaitu keyakinan diri yang tinggi bahwa orang lain tertarik pada dirinya sebagaimana dia tertarik pada dirinya sendiri (mengembangkan kepedulian terhadap isu-sosial dan identitas).  Berikut ini tabel perkembangan kognitif piaget:
Tahap
Perkiraan usia
Pencapaian utama
Sensori motor
Lahir – 2 tahun
Pembentukan konsep “ketetapan objek” dan kemajuan bertahap dari perilaku refleksif keperilaku yang diarahkan tujuan
Pra operasional
2 – 7 tahun
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan objek di dunia ini. Pemikiran tetap egosentris dan terpusat.
Operasional konkrit
7 – 11 tahun
Perbaikan kemampuan berfikir logis. Kemampuan-kemampuan baru meliputi penggunaan operasi yang dapat dibalik. Pemikiran tidak terpusat, dan pemecahan masalah kurang dibatasi oleh egosntrisme. Pemikiran abstrak tidak mungkin.
Operasional formal
11 tahun – dewasa
Pemikiran abstrak dan semata-mata simbolik dimungkinkan. Masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematik

Selain itu, anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. Tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana miliaran sel glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang  mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang. Otak  anak  usia 6 - 7 tahun   besarnya dua pertiga otak orang dewasa, tapi memiliki 5 - 7 kali lebih banyak sambungan antarneuron daripada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antarneuron. Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10 - 11 tahun jika tidak dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam otak dan melarutkan semua jalur atau "urat" syaraf (pathways) yang tidak termielinasi dengan baik(mielinasi adalah proses pembungkusan jalur syaraf dengan myelin yang berujud protein-lemak). Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling brain), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain, otak pikir).
Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi "hadapi atau lari" (fight or flight response) bagi tubuh. "Kita akan bereaksi secara fisik dan emosi lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi," papar dr. Susan. Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat "dikunci" untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang  tidak. Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang "urat" syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.
Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon. "Mereka menyerap apa saja  yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang," papar dr. Susan. Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak pikir.
 RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian terhadap lingkungan. Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 - 7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespons citra visual. Ketika menonton TV, belahan otak kanan inilah yang paling dominan kerjanya. Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus. 
Tahapan Pembentukan dan Perkembangan Otak Manusia
Otak merupakan organ manusia yang paling kompleks baik struktur maupun fungsinya. Saat manusia tumbuh dewasa dengan otak hanya memiliki berat 2-4 persen dari total berat tubuhnya. Tetapi dalam minggu-minggu pertama perkembangan janin, otak telah menyita hingga separuh dari seluruh ukuran janin.
Adapun tahap-tahap pembentukan dan perkembangan otak pada manusia adalah sebagai berikut:
1.    Pembentukan dan perkembangan otak manusia dimulai dengan pembentukan lempeng saraf pada 3-4 minggu usia kehamilan. Lempeng saraf ini kemudian menggulung membentuk tabung saraf.
2.    Pada 2-3 bulan usia kehamilan mulailah terlihat cikal bakal otak besar di ujung tabung saraf, yang selanjutnya terbentuklah batang otak, otak kecil, dan bagian-bagian lainnya.
3.    Usia kehamilan 3-4 bulan terjadi proses produksi dan penambahan jumlah sel saraf.
4.    Pada usia kehamilan 4-5 bulan terjadi migrasi atau perpindahan sel saraf.
5.    Pada usia 5 bulan kehamilan dan beberapa tahun setelah kelahiran berlangsung proses perubahan sel saraf, pembentukan jaringan saraf, dan pembentukan selubung sel saraf. Proses penambahan jumlah sel saraf telah selesai beberapa saat setelah bayi dilahirkan, dan pada usia 2 tahun tidak akan bertambah lagi jumlahnya.
Isu dalam Perkembangan Kognitif
Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.

Tahapan perkembangan

1)     Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
2)     Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
3)     Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu

Natur dan nurtur

Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.

Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan

Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.

Sudut pandang lain

Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
a)     Teori perkembangan kognitif neurosains
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu

a)  Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
b)  Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur
b)     Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello
c)     Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff
Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif, yaitu :
1.      Fisik
Interaksi antar individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.




2.    Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang, hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.      Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat struktur kognitif.
4.      Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
b.   Menurut Vygotsky (prespektif sosiokultural)
Vygotsky berpendapat bahwa aktivitas manusia terjadi dalam setting kultural dan dapat dipahami secra terpisah dari setting tersebut. Salah satu kuncinya yaitu struktur-struktur dan proses-proses mental kita dapat ditelusuri melalui interakksi dengan orang lain. Interaksi sosial menciptakan struktur kognitif dan proses berfikir kita.
Ada tiga pandangan yang dikemukakan Vygotsky:
1)  Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalasis dan diinterpretasikan secara developmental. Pendekatan developmental berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usulnya dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Jadi tindakan mental tertentu seperti menggunakan “ucapan batin” (inner speech) tidak bisa dilihat dengan tepat secara tersendiri tapi harus dievaluasi sebagai suatu langkah dalam proses perkembangan bertahap.
2)  Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental. Vygotsky berpendapat bahwa pada masa anak-anak awal bahasa digunakan sebagai alat yang membantu anak untuk memecahkan problem dan merancang aktivitas.
3)  Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial kultural.  Vygotsky percaya bahwa perkembangan memori, perhatian dan nalar melibatkan pembelajaran untuk mengguanakan alat yang ada dalam masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika dan strategi memori.
c.    Perbandingan Teori Piaget dan Vygotsky
Berikut ini tabel perbandigan teori Piaget dan Vygotsky:
Topik
Vygotsky
Piaget
Konteks sosiokultural
Penekanan kuat
Sedikit penekanan
Konstruktivisme
Konstruktivis sosial
Konstruktivis kognitif
Tahapan
Tidak ada pandangan tentang tahapan umum perkembangan
Penekanan kuat pada tahapan (sensori-motor, pra operasional, operasional konkrit, dan operasional formal)
Proses utama
Zone of proximal development, bahasa, dialog, alat dari kultur
Skema, asimilasi, akomodasi, operasi, konservasi, klasifikasi, penalaran hipotesis deduktif.
Peran bahasa
Bahasa memainkan peran kuat dalam membentuk pemikiran
Minimal; kognisi terutama mengatur bahasa
Pandangan tentang pendidikan
Pendidikan memainkan peran sentral, membantu anak mempelajari alat-alat kultur
Pendidikan hanya memperbaiki keahlian kognitif anak yang sudah muncul.
Implikasi pengajaran
Guru adalah fasilitator dan pembibing, bukan pengatur; memberikan kesempatan bagi murid   belajar bersama guru dan teman yang lebih ahli
Juga memandang guru sebagai fasilitator dan pembimbing bukan pengatur; memberikan dukungan untuk anak agar mengeksplorasi dunia mereka dalam menemukan pengetahuan



4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan
1. Faktor internal (dari dalam tubuh)
a. Gen
1)      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan.
2)      Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen.
3)      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
b. Kondisi biologis dan fisiologis seseorang
Kondisi biologis dan fisiologis tubuh pun berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Satu orang misalnya, kecepatan metabolism tubuhnya berbeda dengan yang lain. Hal itu menyebabkan proses pertambahan dan pematangan sel – sel tubuhnya lebih pesat pula daripada orang lain.
2. Faktor eksternal
a. Gizi
b. Pola pengasuhan
Variasi Pola Pengasuhan seorang anak berpengaruh pula terutama pada perkembangan anak tersebut. Berikut macam – macam pola pengasuhan anak :
1) Dominan Otoriter
Anak hanya pasif mematuhi perintah orang tua. Komunikasi hanya berlangsung satu arah, dan tidak ada keterbukaan antara orang tua dengan anak.
2) Permisif
Dalam hal ini, orang tua membebaskan anak untuk bertindak sesuka hatinya. Akibatnya, anak menjadi kehilangan kendali karena orang tua sudah lepas tangan dalam mengawasi anak.
3) Autoritatif
Orang tua mengawasi anak dalam berperilaku dan tidak sepenuhnya mendikte apa – apa yang harus dilakukan sang anak, sementara anak sendiri mengetahui penuh akan tanggung jawabnya.
c. Tingkat pendidikan
d. Pengaruh lingkungan masyarakat
Hukum – Hukum Perkembangan:
1. Hukum Cephalocaudal : perkembangan bermula dari atas, kebawah, lalu menyebar.
2. Hukum Proximodistal :perkembangan bermula dari tengah badan lalu ke tepi.
3. Hukum tempo dan ritme perkembangan
Pertentangan Pandangan Perkembangan
1.   Nature vs Nurture (bawaaan vs lingkungan)
2. Normatif vs idiografik (dibandingkan dengan orang lain vs dibandingkan dengan diri sendiri dari waktu ke waktu)
3.   Kontinyu vs diskontinyu (berlangsung terus vs bertahap)
Pandangan perkembangan
1.  Organismik : Manusia dianggap sebagai organisme biologis aktif dan terus berinteraksi dengan lingkungannya membentuk perkembangannya sendiri
2.  Mekanistik : Manusia dianggap sebagai organisme pasif seperti mesin yang hanya aktif jika digerakkan oleh lingkungannya





Tidak ada komentar:

Posting Komentar