BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Perkembangan
Perkembangan menurut Santrock adalah pola perubahan
biologis, kognitif dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus
berlanjut sepanjang hayat. Kebanyakan perkembangan adalah pertumbuhan, meskipun
harus mengalami penurunan (kematian).
Perkembangan
menurut Woolflok adalah perubahan-perubahan tertentu yang terjadi pada manusia
(atau binatang) diantara konsepsi dan kematian
Menurut Hurlock perkembangan bersifat kualitatif dan kuantitatif, artinya
proses perkembangan ada yang dapat diukur dan adapula yang tidak dapat diukur.
Misalnya perkembangan otak manusia tidak dapat kita lihat proses
perkembangannya, yang kita lihat adalah gejala-gejalanya.
Berdasarkan beberapa definisi para
ahli di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa perkembangan adalah proses
perubahan tertentu yang terjadi pada manusia (atau binatang) yang dimulai sejak
manusia lahir dan berlangsung sepanjang hayat yang prosesnya dapat kita kenali
dengan melihat gejala-gejalanya.
Menurut
Anita Woolfolk, Perkembangan manusia dapat dibagi menjadi sejumlah aspek yang
berbeda. Perkembangan fisik; berhubungan dengan perubahan-perubahan tubuh.
Perkembangan pribadi; berhubungan dengan perubahan-perubahan kepribadian
individu. Perkembangan sosial; mengacu pada perubahan-perubahan dalam cara
individu berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kognitif; mengacu pada
perubahan-perubahan dalam berfikir.
2. Proses
Perkembangan Manusia
Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage
yang merentang sejak kelahiran hingga kematian.
1. Tahap
Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.
Kekuatan dasar: Dorongan dan harapan
Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral,
karena orang biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok
Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh
kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika
periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya)
pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya,
bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya)
dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh
frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang
menunjukkan betapa pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal
kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan
percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi,
dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap
signifikan dalam memberikan kasih sayang secara tetap.
2. Tahap
Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
Hasil
perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)
Kekuatan
dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan
Selama
tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar
belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari
perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat
dihargai: toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan
untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya
kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan
salah. Salah satu ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata
TIDAK. Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk
pengembangan semangat dan kemauan.
Di
sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya
berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill
lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh,
individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.
3.
Tahap Usia Bermain (Play Age):
3 hingga 5 tahun
Hasil
perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
Kekuatan
dasar: Tujuan
Pada
periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di
sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki
bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main
“pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan,
handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul
sebuah kata yang sering diucapkan seorang anak:”KENAPA?”
Sesuai
dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki) juga sedang
berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal struggle”. Kita
sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat kelaminnya, saling
menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan menunjukkan pada anak
perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan perasaan bersalah.
4.
Tahap Usia Sekolah (School Age):
Usia 6 – 12 tahun
Hasil
perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)
Kekuatan
dasar: Metode dan kompetensi
Periode
ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya
menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti,
berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya
pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa
tumbuh dan berkembang.
Ketrampilan
baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri
(ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta
berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara
normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.
Sekolah
dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan ego
ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai
otoritas tunggal.
5.
Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12
hingga 18 tahun
Hasil
perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)
Kekuatan
dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)
Bila
sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk
saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung padaapa yang
saya kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum
menjadi dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari
identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan
persoalan-persoalan moral.
Tugas
perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang
terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih
luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami
kebingungan dan kekacauan peran.
Hal
utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini,
seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada
kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan
ketergantungan pada teman.
6.
Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood):
Usia 18 hingga 35 tahun
Hasil
perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)
Kekuatan
dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)
Langkah
awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling
memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan.
Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.
Kegagalan
di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia
terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk
pertahanan ego.
Hubungan
yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7.
Tahap Dewasa (Middle Adulthood):
Usia 35 hingga 55 atau 65 tahun
Hasil
perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation
Kekuatan
dasar: production and care (produksi dan perhatian)
Masa
ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh
dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di
seputar keluarga. Selain itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama.
Tugas
yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya
pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang
stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan
sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di
masa ini, kita takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.
Sementara
itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan
berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna
dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah
self-absorpsi atau stagnasi.
8.
Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood):
Usia 55 atau 65tahun hingga mati
Hasil
perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)
Kekuatan
dasar: wisdom (kebijaksanaan)
Orang
berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan
bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada
kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh
menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya,
orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum
bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi,
ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang
dianutnyalah yang paling benar.
3. Perkembangan Otak (kognitif) manusia
Otak manusia merupakan organ tubuh
utama yang terletak di ujung atas dari sumsum tulang belakang. Otak adalah
sekumpulan neuron. Pengorganisasian otak manusia akan lebih di pahami jika
sejalan dengan proses perkembangannya. Otak manusia di bagi kepada 3 bagian
yaitu forebrain (otak depan), midbrain (otak tengah), hindbrain (otak belakang).
Otak depan
berkembang secara perlahan-lahan, bila kemampuan manusia untuk memeperoleh
informasi semakin meningkat dalam jumlah dan mutu maka otak depan akan semakin
besar. Dan pada waktu bersamaan otak tengah akan mengurangi besarnya sedangkan
otak belakang akan tetap dalam kondisi semula.
Otak tengah
terletak antara otak depan dan otak belakang yang berfungsi untuk menerima
informasi sensorik dan mengendalikan beberapa otot. Otak belakang berfungsi
untuk menahan pengendalian utama terhadap kegiatan-kegiatan tubuh yang vital.
Seperti pencernaan, peredaran darah, pernafasan.
Geografi otak
a. Bagian
permukaan (korteks/Kulit). Bagian hemisfer terdiri atas:
1) daerah broca,
yang menghasilakn kemampuan bicara
2)
bagain motorik (korteks motor), yang menghasilkan motor , misalnya mulut
3) daerah wernicke,
yang menghasilkan memahami bahasa
4) bagain
penglihatan, yang di sebut juga dengan korteks visual.
b. Penampang inferior otak,
yang menunjukan struktur fungsi dasarnya sebagai berikut: thalamus yakni
simpangan syaraf dan ingatan, hipotalamus, yakni emosi , rasa panas tubuh dll.
Pitutari yakni kelenjar utama. Lobus limbic, yakni emosi. Sereblum yaki
koordinasi gerakan, pons yakni penghubung system saraf pusat dengan sereblum,
medulla oblongata, yakni aktifitas otomatis, seperti jantung, nafas dan
pencernaan
b.
Otak terdiri dari dua bagian yaitu hemisfer kanan dan kiri
1) hemisfer
kanan, mengontrol bagain kiri tubuh, yang memiliki kemampuan melihat ruang
(misalnya menggambar , menggunakan peta dan mempersepsikan pola)
2) hemisfer
kiri, mengontrol bagian kanan tubuh, yang memiliki kemampuan berbahasa yaitu
memahami dan menghasilkan pembicaraan
Jumlah dan
ukuran saraf otak akan selalu bertambah sampai usia remaja. Beberapa penambahan
ukuran otak juga disebabkan oleh myelination,
sebuah porses dimana sel otak dan system saraf diselimuti oleh lapisan
sel-sel lemak yang bersekat-sekat yang menambah kecepatan arus informasi di
dalam sel saraf.
Perkembangan otak dalam tingkat sel adalah
peningkatan jumlah. Synapse adalah
jarak antar neuron tempat terbentuknya koneksi. Koneksi yang dibentuk dua kali
lebih banyak dibanding dengan koneksi yang dipakai. Koneksi yang digunakan akan
menguat, sementara koneksi yang tidak termanfaatkan akan digantikan dengan
koneksi lain atau lenyap (dipangkas).
Ukuran
keseluruhan otak tidak berubah dari usia tiga sampai lima belas tahun.
Akan tetapi, pertumbuhan cepat dalam frontal (frontal lobes), khususnya yang
berhubungan dengan perhatian dari usia 3 sampai 6 tahun.
Pertumbuhan
yang cepat dalam temporal tempat pemprosesan bahasa, memori jangka
panjang, dan pariental berkembang pada usia 6 th sampai puber.
Perkembangan
Kognitif
a. Menurut
Piaget
Piaget menyatakan bahwa perkembangan bergantung
sebagian besar pada manipulasi anak terhadap dan interaksi aktif dengan
lingkungan. Teori perkembangan piaget menyatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan
kognisi seorang anak mengalami kemajuan melalui 4 tahap, yaitu:
1) Tahap
sensori motor (pada saat lahir hingga usia 2 tahun)
Pada tahap ini bayi menggunakan
indra mereka dan kemampuan motorik mereka dalam mengenal dunia. Pada awalnya
semua bayi memiliki prilaku bawaan yang disebut dengan gerak refleks. Dengan
gerak ini bayi menghasilkan pola-pola prilaku yang lebih menarik dan
intensional. Pembelajaran ini pada awalnya terjadi secara kebetulan kemudian
berkembang menajdi intensional
Menurut Piaget pada tahap akhir
sensori motor, anak-anak telah melangkah dari tahapan uji coba ke pendekatan
yang lebih terencana terhadap pemecahan masalah.
Pertanda sensorimotorik lainnya
adalah perkembangan pemahaman mengenai objek. Piaget berpendapat bahwa
anak-anak harus belajar bahwa objek bersifat stabil secara fisik dan tetap ada
sekalipun objek tersebut tidak ada dalam kehadiran fisik anak tersebut (object permanence)
2) Tahap
pra operasional (usia 2 hingga 7 tahun)
Anak pada tahap ini mempunyai
kemampuan yang lebih besar untuk memikirkan segala sesuatu dan dapat
menggunakan simbol untuk melambangkan objek dalam fikiran.
Karakteristik anak pada tahap ini
yaitu:
a) Keterpusatan
(concentration); anak hanya
memberikan perhatian pada satu aspek situasi, atau kurangnya konservasi. Yang
dimaksud yaitu ide bahwa karakteristik objek tetap sama meskipun objek tersebut
berubah penampilannya.
b) Tidak
reversibilitas (reversibility);
artinya pengetahuan anak tidak dapat timbal balik (kembali ke titik semula)
atau anak tidak mampu melakukan “ operasi” seperti pengetahuan orang dewasa.
Pemikiran pra operasional dapat di bagi menjadi 2 sub
tahap:
a)
Tahap pertama: fungsi simbolis
Tahap ini terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun. Pada
tahap ini anak secara mental dapat mempresentasikan objek yang tidak hadir.
Penggunaan bahasa yang mulai berkembang dan kemunculan sikap bermain adalah
contoh dari tahap ini.
Namun demikian pemikiran pra-operasinal pada tahap ini
masih mengandung 2 keterbatasan yaitu egoisentrisme dan animisme. Egoisentrisme
adalah ketidakmampuan untuk membedakan antara prespektif milik sendiri dan
prespektif orang lain. Animisme adalah kepercayaan bahwa objek yang tidak
bernyawa memiliki kualitas “kehidupan” dan bisa bergerak.
b) Tahap
kedua : pemikiran intuitif
Dimulai pada usia 4 sampai 7 tahun. Pada tahap ini
anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin mengetahui semua jawaban
pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai “intuitif” karena anak tampaknya
memiliki keyakinan terhadap pengetahuan dan kemampuan mereka. Tetapi tidak
menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa yang mereka ingin ketahui.
3) Tahap operasional kongkret (usia 7 sampai 11
tahun)
Pemikiran operasional kongkret
mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif
tetapi hanya dalam situasi kongkret. Kemampuan dalam melakukan penggolongan
sudah ada tapi belum bisa memecahkan persoalan dalam kondisi abstrak. Pada
tahap ini terjadi peralihan dari pemikiran egoisentris ke pemikiran yang tidak
terpusat atau objektif.
Tugas penting dalam tahap
operasional kongkret yaitu pengurutan (seriation),
atau menyusun sesuatu dalam deret logis. Begitu kemampuan ini diperoleh maka
anak dapat menguasai transitivitas (transitivity)
yaitu kemampuan menghubungkan antara dua objek berdasarkan pengetahuan tentang
hubungannya masing-masing dengan objek ketiga.
4) Tahap
operasional formal ( usia 11 tahun hingga dewasa)
Pada tahap ini individu sudah mulai
memikirkan pengalaman di luar pengalaman konkrit , dan memikirkannnya secara
lebih abstrak, idealis dan logis. Kualitas berfikir abstrak terlihat dalam
pemecahan problem verbal.
Selain itu pemikir operasional
formal memiliki kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan
kemungkinan-kemungkinan atau berspekulasi tentang kualitas ideal yang mereka
inginkan dalam diri mereka dan orang lain.
Piaget menyatakan bahwa pada tahap
operasional formal ini dikenal “ penalaran- hipotesis – deduktif” artinya
remaja dapat menyusun hipotesis tentang cara memcahkan problem dan mencapai
kesimpulan secara sistematis.
Selain itu pada tahap ini muncul
egiosentrisme, yaitu keyakinan diri yang tinggi bahwa orang lain tertarik pada
dirinya sebagaimana dia tertarik pada dirinya sendiri (mengembangkan kepedulian
terhadap isu-sosial dan identitas). Berikut ini tabel perkembangan
kognitif piaget:
|
Tahap
|
Perkiraan usia
|
Pencapaian utama
|
|
Sensori
motor
|
Lahir – 2
tahun
|
Pembentukan
konsep “ketetapan objek” dan kemajuan bertahap dari perilaku refleksif
keperilaku yang diarahkan tujuan
|
|
Pra
operasional
|
2 – 7
tahun
|
Perkembangan
kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan objek di dunia ini.
Pemikiran tetap egosentris dan terpusat.
|
|
Operasional
konkrit
|
7 – 11
tahun
|
Perbaikan
kemampuan berfikir logis. Kemampuan-kemampuan baru meliputi penggunaan
operasi yang dapat dibalik. Pemikiran tidak terpusat, dan pemecahan masalah
kurang dibatasi oleh egosntrisme. Pemikiran abstrak tidak mungkin.
|
|
Operasional
formal
|
11 tahun –
dewasa
|
Pemikiran
abstrak dan semata-mata simbolik dimungkinkan. Masalah dapat dipecahkan
melalui penggunaan eksperimentasi sistematik
|
Selain
itu, anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. Tiga
tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana miliaran sel glial terus
bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan
sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang
berbentuk memanjang. Otak anak usia 6 - 7 tahun besarnya
dua pertiga otak orang dewasa, tapi memiliki 5 - 7 kali lebih banyak sambungan
antarneuron daripada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka
memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antarneuron.
Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10 - 11 tahun jika tidak dikembangkan
atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam otak dan melarutkan
semua jalur atau "urat" syaraf (pathways) yang tidak termielinasi
dengan baik(mielinasi adalah proses pembungkusan jalur syaraf dengan myelin
yang berujud protein-lemak). Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui
tiga tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling
brain), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain, otak
pikir).
Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi "hadapi atau lari" (fight or flight response) bagi tubuh. "Kita akan bereaksi secara fisik dan emosi lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi," papar dr. Susan. Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat "dikunci" untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang tidak. Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang "urat" syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.
Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon. "Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang," papar dr. Susan. Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak pikir. RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian terhadap lingkungan. Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 - 7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespons citra visual. Ketika menonton TV, belahan otak kanan inilah yang paling dominan kerjanya. Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus.
Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi "hadapi atau lari" (fight or flight response) bagi tubuh. "Kita akan bereaksi secara fisik dan emosi lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi," papar dr. Susan. Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat "dikunci" untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang tidak. Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang "urat" syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.
Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon. "Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang," papar dr. Susan. Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak pikir. RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian terhadap lingkungan. Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 - 7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespons citra visual. Ketika menonton TV, belahan otak kanan inilah yang paling dominan kerjanya. Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus.
Tahapan Pembentukan dan Perkembangan Otak Manusia
Otak merupakan organ manusia yang paling kompleks
baik struktur maupun fungsinya. Saat manusia tumbuh dewasa dengan otak hanya
memiliki berat 2-4 persen dari total berat tubuhnya. Tetapi dalam minggu-minggu
pertama perkembangan janin, otak telah menyita hingga separuh dari seluruh
ukuran janin.
Adapun tahap-tahap pembentukan dan perkembangan
otak pada manusia adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan dan perkembangan otak manusia dimulai
dengan pembentukan lempeng saraf pada 3-4 minggu usia kehamilan. Lempeng saraf
ini kemudian menggulung membentuk tabung saraf.
2. Pada 2-3 bulan usia kehamilan mulailah terlihat cikal
bakal otak besar di ujung tabung saraf, yang selanjutnya terbentuklah batang
otak, otak kecil, dan bagian-bagian lainnya.
3. Usia kehamilan 3-4 bulan terjadi proses produksi
dan penambahan jumlah sel saraf.
4. Pada usia kehamilan 4-5 bulan terjadi migrasi atau
perpindahan sel saraf.
5. Pada usia 5 bulan kehamilan dan beberapa tahun
setelah kelahiran berlangsung proses perubahan sel saraf, pembentukan jaringan
saraf, dan pembentukan selubung sel saraf. Proses penambahan jumlah sel saraf
telah selesai beberapa saat setelah bayi dilahirkan, dan pada usia 2 tahun
tidak akan bertambah lagi jumlahnya.
Isu dalam Perkembangan Kognitif
Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu
perkembangan psikologi secara umum.
Tahapan perkembangan
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan
berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
2)
Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah
pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses
terputus pada tiap tahapannya.
Natur dan nurtur
Kontroversi natur dan nurtur berasal dari
perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme.
Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk
tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan
hasil dari pengalaman.
Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan
Secara
relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada
suatu derajat kecerdasan,
namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun
dibandingkan dengan usia 15 tahun.
Sudut pandang lain
Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk
menjelaskan perkembangan kognitif.
Kemajuan
ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku.
Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan
kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan
mengenai umat manusia yaitu
b)
Teori
Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang
dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial
dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan
pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan.
Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada
secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello
c)
Teori Theory of Mind (TOM)
Teori
perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema
mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya
adalah Andrew N. Meltzoff
Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif, yaitu :
1.
Fisik
Interaksi antar individu dan dunia luar
merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak
cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat
memanfaatkan pengalaman tersebut.
2.
Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting
karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman
fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau
kurang, hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif.
Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat
kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.
Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa
dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat struktur
kognitif.
4.
Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi
diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun
pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan perkembangan jasmani yang menyebabkan
perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
b. Menurut
Vygotsky (prespektif sosiokultural)
Vygotsky berpendapat bahwa aktivitas
manusia terjadi dalam setting kultural dan dapat dipahami secra terpisah dari
setting tersebut. Salah satu kuncinya yaitu struktur-struktur dan proses-proses
mental kita dapat ditelusuri melalui interakksi dengan orang lain. Interaksi
sosial menciptakan struktur kognitif dan proses berfikir kita.
Ada tiga pandangan yang dikemukakan
Vygotsky:
1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami
apabila dianalasis dan diinterpretasikan secara developmental. Pendekatan
developmental berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal
usulnya dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Jadi
tindakan mental tertentu seperti menggunakan “ucapan batin” (inner speech) tidak bisa dilihat dengan tepat secara tersendiri tapi
harus dievaluasi sebagai suatu langkah dalam proses perkembangan bertahap.
2) Kemampuan kognitif dimediasi dengan
kata, bahasa, dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk
membantu dan mentransformasi aktivitas mental. Vygotsky berpendapat bahwa pada
masa anak-anak awal bahasa digunakan sebagai alat yang membantu anak untuk
memecahkan problem dan merancang aktivitas.
3) Kemampuan kognitif berasal dari relasi
sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial kultural. Vygotsky
percaya bahwa perkembangan memori, perhatian dan nalar melibatkan pembelajaran
untuk mengguanakan alat yang ada dalam masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika
dan strategi memori.
c. Perbandingan Teori Piaget dan
Vygotsky
Berikut ini
tabel perbandigan teori Piaget dan Vygotsky:
|
Topik
|
Vygotsky
|
Piaget
|
|
Konteks sosiokultural
|
Penekanan kuat
|
Sedikit penekanan
|
|
Konstruktivisme
|
Konstruktivis sosial
|
Konstruktivis kognitif
|
|
Tahapan
|
Tidak ada pandangan tentang tahapan umum perkembangan
|
Penekanan kuat pada tahapan (sensori-motor, pra operasional, operasional
konkrit, dan operasional formal)
|
|
Proses utama
|
Zone of proximal development, bahasa, dialog, alat dari kultur
|
Skema, asimilasi, akomodasi, operasi, konservasi, klasifikasi, penalaran
hipotesis deduktif.
|
|
Peran bahasa
|
Bahasa memainkan peran kuat dalam membentuk pemikiran
|
Minimal; kognisi terutama mengatur bahasa
|
|
Pandangan tentang pendidikan
|
Pendidikan memainkan peran sentral, membantu anak mempelajari alat-alat
kultur
|
Pendidikan hanya memperbaiki keahlian kognitif anak yang sudah muncul.
|
|
Implikasi pengajaran
|
Guru adalah fasilitator dan pembibing, bukan pengatur; memberikan
kesempatan bagi murid belajar bersama guru dan teman yang lebih
ahli
|
Juga memandang guru sebagai fasilitator dan pembimbing bukan pengatur;
memberikan dukungan untuk anak agar mengeksplorasi dunia mereka dalam
menemukan pengetahuan
|
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan
1. Faktor internal (dari dalam tubuh)
a. Gen
1) Bersifat tetap atau tidak berubah
sepanjang kehidupan.
2) Menentukan beberapa karakteristik
seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh
dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen.
3) Potensi genetik yang bermutu
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga
diperoleh hasil akhir yang optimal.
b. Kondisi
biologis dan fisiologis seseorang
Kondisi biologis dan fisiologis
tubuh pun berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Satu
orang misalnya, kecepatan metabolism tubuhnya berbeda dengan yang lain. Hal itu
menyebabkan proses pertambahan dan pematangan sel – sel tubuhnya lebih pesat
pula daripada orang lain.
2. Faktor eksternal
a. Gizi
b. Pola pengasuhan
Variasi
Pola Pengasuhan seorang anak berpengaruh pula terutama pada perkembangan anak
tersebut. Berikut macam – macam pola pengasuhan anak :
1) Dominan
Otoriter
Anak hanya
pasif mematuhi perintah orang tua. Komunikasi hanya berlangsung satu arah, dan
tidak ada keterbukaan antara orang tua dengan anak.
2)
Permisif
Dalam hal
ini, orang tua membebaskan anak untuk bertindak sesuka hatinya. Akibatnya, anak
menjadi kehilangan kendali karena orang tua sudah lepas tangan dalam mengawasi
anak.
3)
Autoritatif
Orang tua
mengawasi anak dalam berperilaku dan tidak sepenuhnya mendikte apa – apa yang
harus dilakukan sang anak, sementara anak sendiri mengetahui penuh akan
tanggung jawabnya.
c. Tingkat pendidikan
d. Pengaruh lingkungan masyarakat
Hukum –
Hukum Perkembangan:
1.
Hukum Cephalocaudal : perkembangan bermula dari atas, kebawah, lalu menyebar.
2.
Hukum Proximodistal :perkembangan bermula dari tengah badan lalu ke tepi.
3. Hukum
tempo dan ritme perkembangan
Pertentangan
Pandangan Perkembangan
1. Nature vs Nurture (bawaaan vs lingkungan)
2.
Normatif vs idiografik (dibandingkan dengan orang lain vs dibandingkan dengan
diri sendiri dari waktu ke waktu)
3. Kontinyu vs diskontinyu (berlangsung terus vs
bertahap)
Pandangan perkembangan
1.
Organismik : Manusia dianggap sebagai
organisme biologis aktif dan terus berinteraksi dengan lingkungannya membentuk
perkembangannya sendiri
2. Mekanistik : Manusia dianggap sebagai
organisme pasif seperti mesin yang hanya aktif jika digerakkan oleh
lingkungannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar