Bab II
Pembahasan
A.
Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Cina
Agama Buddha berkembang ke Cina
sekitar abad kedua sebelum masehi melalui Asia Tengah dan mulai berpengaruh
pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58-75 M). Sejak dinasti Han (202-220 M),
agama Buddha mulai mendapat perhatian. Kira-kira pada masa itulah Mo Tzu
menyusun bukunya Li-huo-lun (Menangkis Kekeliruan)
sebagai apologia bagi agama Buddha.
Pada tahun 147 M seorang bhikkhu dari
Asia Tengah bernama Lokaraksha telah menetap di Loyang, ibukota dinasti Han
masa itu. Pada abad ke-2, ke-3, dan ke-4 banyak bhikkhu dari
India pergi ke Cina dan menyalin berbagai Sutra dan sastra
dalam bahasa Cina.
Pada tahun 399 M seorang bhikkhu Cina
bermana Fa Hien, bersama rombongannya yang terdiri atas 10 orang, melakukan
perjalanan ke India melalui jalan darat untuk mempelajari agama Buddha.
Pada tahun 413 M, beliau pulang melalui jalan laut dan singgah di Sriwijaya
(Sumatera) dan Jawa. Beliau menyalin berbagai sutra. Catatan
beliau mengenai negara-negara Buddhis (Record of Buddhist countries) terkenal sampai kini.
Dalam
masa dua setengah abad, setelah bhikkhu Fa-Hien, banyak lagi
peziarah yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu Cina,
berangkat ke India. Tetapi catatan perjalanan mereka lenyap, kecuali
petikan-petikan singkat yang terdapat pada berbagai naskah kuno. Menjelang awal
abad ke-7 M, seorang bhikkhu Cina bernama Huan Tsang
melakukan perjalanan lagi ke India dan catatan perjalanan beliau pada berbagai
wilayah barat itu (Record of Western Regions) merupakan salah satu sumber
sejarah sampai kini. Beliau merasa tidak puas menyaksikan agama Buddha yang
dicintainya telah kehilangan pengaruh di anak benua India.
B.
Aliran Agama Buddha
Awal di China
Aliran-aliran agama Buddha yang
berkembang di Cina secara garis besar terbagi dalam dua pandangan, yaitu
(1) aliran-aliran dari pandangan Atta dan (2) aliran-aliran
dari pandangan Anatta.
Aliran yang mula-mula berkembang di Cina adalah Theravada, yang terbagi dalam tiga aliran,
yaitu :
1.
Cheng-shih (di India dinamakan aliran Sautantika), yang berpandangan bahwa Dhamma dan
kehidupan itu hanya realitas maya. Aliran itu berkembang di Cina
sampai abad ke-6, lalu mulai mundur, dan kemudian lenyap pada abad ke-8 setelah
aliran San-lun (Mahayana) muncul.
2.
Chu-she (di India dinamakan aliran Vaibashika),
berpandangan bahwa Dhamma dan kehidupan itu mempunyai
realitas. Aliran itu berkembang sampai abad ke-7 dan kemudian lenyap setelah
aliran Mahayana muncul.
3.
Lu, yaitu aliran yang mempertahankan peraturan yang
ketat bagi kehidupan Sangha berdasarkanVinaya Pitaka. Ajaran dari aliran ini dikembangkan dan
disempurnakan oleh Taoshuan (596-667 M), seorang bhikkhu terkemuka
dari Gunung Selatan. Peraturan yang ketat itu termasuk 250 "larangan"
bagi bhikkhu dan 348 "larangan" bagi bhikkhuni. Lambat laun aliran tersebut meresapi ajaran-ajaran
aliran lain sehingga tidak lagi merupakan aliran tersendiri.
Ketiga aliran tersebut tidak bertahan lama karena
masuknya aliran Mahayana yang lebih mudah berkembang di Cina,
sehingga pada akhirnya pengaruh Theravada lenyap dari bumi Cina.
Dalam aliran Mahayana di Cina,
berkembang tujuh aliran besar, yaitu :
1. Aliran San-lun
2. Aliran Wei-shih
3. Aliran Tien-tai
4. Aliran Hua-yen
5. Aliran Chan
6. Aliran Ching-tu
7. Aliran Chen-yen
Di
antara tujuh aliran itu, hanya empat paling berpengaruh dan merupakan inti dari
agama Buddha di Cina. Keempat aliran itu adalah Tien-tai,
Hua-yen, Chan, dan Ching-tu. Dalam lingkungan agama Buddha di Cina,
ada pameo berbunyi : "Tien-tai dan Hua-yen untuk
doktrin; Chan dan Chingtu untuk
kebaktian." Intisari pendirian dari satu persatu aliran tersebut
dijelaskan di bawah ini.
1.
Aliran Sun-lun
San-lun artinya Tiga Sutra. Aliran ini
berdasarkan pada tiga karya yang disalin Kumarajiva ke dalam bahasa Cina. Dua buah di
antaranya adalah karya Bhikkhu Nagarjuna dan sebuah lagi merupakan karya
muridnya, Deva. Aliran ini di India dikenal sebagai aliran Madhyamika (Aliran Tengah). Aliran ini berpendirian bahwa
seluruh alam luar itu hanya suatu realitas terbatas (qualified reality) belaka, tidak merupakan realitas
penuh. Seluruh fenomena dalam alam luar itu sepanjang fragmatis memang suatu
kenyataan, dalam pengertian realitas terbatas, bagi tujuan-tujuan praktis.
Semuanya itu hanya riil dalam pengertian kenyataan semu belaka. Tidak terdapat satupun dari
keseluruhannya itu memiliki Atta (full-Being).Pada akhirnya, semuanya akan kehilangan realitas.
Setiap orang terus menerus dipengaruhi oleh ilusi
(khayal) dari tanggapan indrianya. Semuanya itu pada hakikatnya hanya
kekosongan belaka. Kekosongan (sunyata) itu saja yang betul-betul Sunya Vada(Doktrine of Emptiness). Suatu kritik yang diajukan terhadap pemikiran Sunya Vada adalah apabila pemikiran itu
dilanjutkan maka setiap pemikiran (bahkan pemikiran Sunya Vada itu sendiri yang
mempertahankan serba-kosong itu) adalah tidak riil. Argumentasi di atas itupun,
yang menantang Sunya Vada, juga tidak riil. Pernyataan terakhir itupun tidak
rill. Begitu seterusnya tanpa henti-hentinya.
Sekalipun begitu, aliran Sunya Vada itu bukan bersifat
pesimistis karena di dalamnya terkandung pula sesuatu yang positif. Jika alam
luar itu pada hakikatnya tidak riil dan hanya kekosongan saja yang betul-betul
riil, namun hal itu dapat dialami dalam samadhi secara
langsung dan pasti, yaitu suatu hal yang tidak dimiliki oleh alam luar, maka
kekosongan itu pada hakikatnya berada di mana-mana mencakup segalanya. Jadi
segala yang ada itu pada hakikatnya merupakan bagian dari kekosongan itu atau Nirvana.
Di dalam ungkapan yang lebih mudah untuk dipahami akan
dapat dijelaskan sebagai berikut : silahkan pejamkan mata anda dan tutup
telinga anda maka segalanya akan berubah menjadi suatu yang kosong (void).
Dengan membenamkan diri di dalam kekosongan itu (sewaktu menjalankan samadhi),
seseorang mencapai Nirvana. Di sana terasa ketentraman
jiwa, teduh-tenang, suatu diam yang kekal.
Di dalam aliran Madhyamika ini
dijumpai dua pengertian tentang kebenaran, yaitu kebenaran umum dan kebenaran
tertinggi. Pernyataan bahwa Dhamma dan aku itu ada merupakan
hal yang dipandang dari sudut kebenaran umum atau kebenaran alami, yang
sifatnya relatif dan pragmatis. Pernyataan bahwaDhamma dan aku itu
senantiasa berubah dari saat ke saat dan itu bukan sesuatu yang tetap ada pada
setiap saat merupakan hal yang dipandang dari sudut kebenaran tertinggi.
Hanya Sunya (kekosongan,void) saja yang memiliki realitas
yang tidak berubah-ubah.
Titik tolak aliran Madhyamika itu
berpangkal pada Empat Dalil yang pada intinya menolak setiap pandangan tentang
: (1) ada, (2) tidak ada, (3) serentak ada dan tidak ada, (4) serentak ada dan
bukan tidak ada. Keempat hal tersebut apabila
dibahas satu persatu secara terperinci dengan argumentasi-argumentasi yang
padat dan tajam akan memperlihatkan ketajaman dalam penggunaan logika sehingga
ketiga Sutrayang menjadi dasar aliran Madhyamika itu
mempunyai kekuatan yang mempesona. Demikian pendapat dari W. Theddore de Bary
di dalam buku Sources of Chinese Tradition edisi 1964, menyatakan bahwa
George Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776), dua orang filsuf bangsa
Inggris yang pendapatnya menggoncangkan alam pikiran di Barat pada abad ke-18,
meminjam dalil-dalil Bhikkhu Nagarjuna itu. Aliran Madhyamika di Cina (aliran San-lun) ini kemudian
dikembangkan dan disempurnakan oleh Dhi-tsang (549-623 M), seorang bhikkhu yang
memiliki ayah dari Parsi dan ibu dari Cina. Karya-karyanya merupakan
penyempurnaan yang menyeluruh bagi aliran Mahayana. Akan
tetapi aliran itu mulai kurang berpengaruh semenjak abad ke-9 Masehi.
2.
Aliran Wei-shih
Wei-shih itu bermakna “Hanya Kesadaran”. Aliran ini di
India dikenal dengan nama vijnanavada yang dibangun oleh Asanga. Sebelum karya Asanga disalin ke dalam bahasa Cina,
aliran ini dikenal dengan sebutan She-lun. Aliran ini belakangan
dikenal sebagai aliran Fahsiang (Dharmakaya), dibangun
oleh Huan-Tsang (596-664 M), seorang bhikkhu,
penulis, dan cendekiawan. Beliau melakukan perjalanan ke
India, setelah pulang kembali ke Cina, beliau dengan tekun menyalin karya-karya
kaum vijnanavada, terutama karya Bhikkhu Dhammapala yang berjudul Vijnapti-Matrata-Siddhi
(Sistematika dari Hanya Kesadaran, Cheng Wei Shih Lun). Semenjak itu aliran ini lebih
dikenal dengan sebutan AliranWei-Shih.
Vijnanavada ini merupakan sebuah aliran Cita-Murni (Pure Idealism).
Perwujudan alam luar itu hanya ada di dalam ingatan seseorang. Alam luar itu
tidak lain dari maya belaka. Bagi seseorang di dalam samadhi mungkin
saja bisa memunculkan di depan mata ingatannya akan segala rupa dari alam luar
itu, yang benar-benar mirip menurut kenyataannya sesuai tanggapan indria, namun
orang tersebut sadar bahwa semuanya itu tidak memiliki realitas. Justru
tanggapan itu, dengan begitu, bukan bukti atas “ada”. Setiap tanggapan itu tidak lain
adalah proyeksi dari ingatan belaka, yakni dari kesadaran seseorang.
Meskipun begitu, kaum Vijnanavada mengakui ada sesuatu yang
bebas dari pemikiran manusia, “ada yang murni”, dan menyeluruh tanpa ciri, yang
tidak bisa diberi predikat olah karena ada itu sendiri tanpa predikat. “Ada
yang Murni” dan menyeluruh itu disebut dengan Tathata. Tathata itu merupakan sebutan bagi
Maha Pencipta, Tathata itu bermakna “Kenyataan”. “Kenyataan”
itu merupakan sesuatu yang dapat ditunjuk oleh kesadaran tetapi tidak dapat
dilukiskan.
Mengenai pengertian Tathata, ada yang
menafsirkannya sebagai pengaruh dari ajaran Tao dari Lao-Tzu.
Mengenai ajaran bahwa Tathata itu merupakan sesuatu “Ada yang Murni” tanpa predikat, ada yang
berpendapat bahwa ajaran itu berpengaruh terhadap aliran Iktizal di dalam Islam, suatu aliran yang
dibangun di Basrah oleh Washil ibn Athak (689-748 M) dan Amru ibn Ubaid
(699-757 M), kemudian berkembang ke Baghdad dan pada masa pemerintahan Khalif Al Makmun (813-833 M) diakui sebagai aliran
resmi yang menggantikan aliran Sunni.
Mengenai ajaran tentang Keselamatan (Salvatian), yakni Moksha yang akan membebaskan Dukkha, kaum Vijnanavada berpendapat bahw hal itu hanya
dapat dicapai dengan menghabiskan perbendaharaan kesadaran sampai “Ada yang Murni”, sehingga akhirnya sama dengan Kenyataan(Tathata). Jalan
satu-satunya untuk mencapai hal itu hanya dengan menjalani Yoga, yang terbagi atasKriya yoga dan Raja yoga. Tathata atau “Kenyataan” itu dapat dicapai dengan empat
hikmat, yaitu :
1. hikmat laku, terdiri atas lima tingkat
kesadaran.
2. hikmat tinjauan, pemusatan kesadaran indria.
3. hikmat ingatan, pemusatan kesadaran ingatan.
4. hikmat Kaca-Maha-Agung, berupa kesadaran tertinggi, yang
melenyapkan diri ke dalam Keituan.
3.
Aliran Tien-tai
Aliran Tien-tai dalam
agama Buddha mendapatkan kedudukan penting dalam filsafat Cina.
Di Jepang disebut dengan aliran Nichiren. Pada mulanya aliran ini berdasarkan pada Saddharma-Pundarika-Sutra (Seroja dari Hukum Terbaik),
tetapi dalam perkembangannya, penafsiran terhadap karya tersebut yang diberikan
oleh Chih-kai (538-597 M) menjadi pegangan
utama. Chih-kai adalah nama seorang bhikkhu yang berasal dari
wilayah Gunung Tien-Tai di provinsi Chekiang, tempat bhikkhu Chih-kai
membuka perguruannya.
Seroja Hukum Terbaik itu, menurut pendapat Guru Besar
dari Tien-tai, adalah Sutra Mahayana yang paling
mudah untuk dipahami oleh kalangan umum, karena bukan karya theologis yang
berbelit-belit, tetapi langsung memberikan tuntutan ke arah keselamatan melalui
praktek. Pandangan-pandangan Chih-kai dicatat
dan dihimpun oleh muridnya, Kuan-ting, dan merupakan tiga karya besar dari aliran Tien-tai,
yaitu :
1. Fa-hua wen-chu, tentang kata dan kalimat di dalam
Seroja.
2. Fa-hua hsuan-i, tentang pengertian yang lebih
dalam dari Seroja.
3. Mo-ho chi-kuan, tentang kesadaran dan renungan.
Pada masa itu, agama Buddha di Cina
memperlihatkan dua ciri. Di wilayah bagian selatan lebih mengutamakan
pembahasan-pembahasan secara rasional dan filosofis. Sedangkan di wilayah
bagian utara lebih mengutamakan kepercayaan dan penghormatan terhadap tata
tertib. Belahan selatan bersifat intelektual sementara belahan utara bersifat
disiplin. Chih-kai berasal dari selatan,
tetapi gurunya, Hui-tsu (514-577 M) berasal dari utara.
Dengan begitu menurut pemeo Cina, pada diri Chih-kai itu bersatu dua sayap burung. Ajaran Tien-tai mengutamakan suatu prinsip yang disebut dengan Keselamatan Sempurna melalui Tiga
Kebenaran,yaitu
:
1. Seluruh “unsur” (Dharma) dan “aku” merupakan suatu kekosongan
belaka, yang dihasilkan oleh hukum sebab-akibat, serta tidak memiliki ciri
kedirian.
2. Semuanya hanya “Ada Sementara”.
3. Disebabkan kosong dan sementara,
maka watak khusus dari segalanya itu hanya “pengertian-pengertian” belaka.
Ketiga hal tersebut (kosong, sementara, pengertian) saling
berkaitan satu dengan lainnya, dengan demikian, “Satu adalah Tiga” dan
“Tiga adalah Satu”. Kesatuan itu merupakan “ada-Kenyataan”yang
relatif tetapi memiliki kemiripan dengan Yang Mutlak. Titik berat terpenting pada aliran Tien-tai terletak
pada kesadaran dan renungan sebagai jalan untuk menuju “Kebenaran Terakhir”.
“Kebenaran Terakhir” itu terjelma pada saat-saat dalam Ekstasi.“Ada Sementara’ itu
memiliki kepribadian-Buddha di dalam dirinya dan justru bisa
diselamatkan melalui kesadaran dan konsentrasi. Dalam hal ini, sarjana menilai
sebagai pengaruh ajaran Atman danBrahman dari
agama Hindu.
4.
Aliran Hua-yen
Aliran Hua-yen bermakna Kalung Bunga (Flower Garland School). Aliran Hua-yen ini berdasarkan Avatamsaka-Sutra, sebuah karya dari India Utara, yang mengemukakan ajaran Sakyamuni
dalam kedudukannya sebagai penjelmaan Buddha Vairochana. Aliran tersebut di India sendiri
tidak pernah ada. Sedangkan Vairochana itu, di dalam Upanishads yang
merupakan kitab suci agama Hindu, adalah penamaan bagi pemimpin kodrat-kodrat
rohani yang mempunyai sifat tertentu. Aliran ini mula-mula dibangun
oleh Tua-shun (557-640 M), kemudian dikembangkan dan
disempurnakan oleh Fa-tsang (643-712 M), seorang Guru Besar
dari Hsien-show. Dengan demikian aliran ini berasal dari
daerah asal guru besarnya.
Pokok ajaran utama dalam aliran Hua-yen adalah Kausalitas
Univeral, yaitu Hukum Sebab Akibat yang Universal. Alam
semesta itu tercipta dengan serentak dan ini yang disebut alam Hukum(Dharmadhatu)
oleh aliran Hua-yen. Seluruh unsur (Dharma)
dan aku memiliki tiga ciri yang saling berlawanan, yaitu :
1. umum khusus
2. persamaan perbedaan
3. kesatuan perpisahan.
5.
Aliran Ching-tu
Aliran Ching-tu biasa
disebut aliran Sukhavati (Happy Land School), didasarkan
pada Sukhavati-Vyusha-Sutra. Keadaan di dalam Sukhavati digambarkan dengan keadaan yang sangat
menggiurkan siapapun. Kesenangan yang bagaimanapun sempurnanya di dunia ini tidak
berarti bila dibandingkan dengan kesenangan yang bakal dinikmati di dalam Sukhavati.
Oleh karena itulah aliran Ching-tu memperoleh pengaruh yang
kuat dan luas dari kalangan umum di seluruh Cina.
Sukhavati dikuasai oleh Buddha
Amitabha. Di Cina disebut dengan Kwan-Yin dan di
Jepang disebut dengan Amida. Setiap orang yang menginginkan
kebenaran dan pencerahan, senantiasa memusatkan pemikiran dan renungan
terhadap Amitabha, pada saat menghembuskan napas yang penghabisan
mengucapkan nama-Nya, maka Buddha Amitabha dengan segala
pengiringnya akan menyambut orang itu dan langsung membawanya ke Sukhavati. Para pengikut aliran Ching-tu sangat
mengutamakan samatha, ketenangan batin.
6.
Aliran Chan
Aliran Chan di Cina dikenal di India
dengan sebutan aliran Dhyana dan di Jepang dikenal dengan
sebutan aliran Zen. Dhyana berarti meditasi (samadhi). ”Chan” dan ”Zen” adalah perubahan bunyi (transliterasi) dari dhyana menurut
dialek Cina dan dialek Jepang. Aliran Chan bersifat mistik. Buddha Gotama pada masa hidup-Nya,
menurut aliran Chan, tidak memberikan dan membukakan ”Ilmu Tertinggi”
kepada siapapun, kecuali kepada seorang murid-Nya yang amat penting, Bhikkhu
Maha Kassapa, satu-satunya murid yang sanggup memahaminya. Bhikkhu
Maha Kassapa dipandang sebagai Bhikkhu pertama menurut silsilah di dalam aliran Chan. Demikian pula halnya dengan aliran Chan yang
menyatakan bahwa Bhikkhu Maha Kassapa hanya mewariskan hikmat
rahasia itu kepada penggantinya, demikian terus menerus hingga berjumlah 27
orang Bhikkhu di India. Bhikkhu yang ke-8 bernama Bodhidharma yang meninggalkan India dan
berlayar ke Cina pada tahun 527 (masa pemerintahan Liang Wudi dari
dinasti Liang). Bodhidharma menetap selama 9 tahun di Vihara Saolin,
di pegunungan Song, serta menunjuk bhikkhu Hui-ke sebagai penggantinya.
Di Cina, ”Kebenaran rahasia” itu diwariskan secara
turun temurun. Secara berturut-turut bhikkhu Hui-ke digantikan oleh Seng Can, Dao Xin, Hong Ren, dan
Hui Neng (638-713
M) dalam kedudukannya sebagai bhikkhu Keenam (Sixth Patriarch).
Murid Hui-neng yang terkenal adalah Nanyue Hua Rang(677-744), Qingyuan Xingsi
(660-740), Yongjia Xuang Xuang jue (665-713), Nanyang Huizon (677-775), dan
Heze Shenhui (670-758 M.).
Aliran Chan bersikap agak bebas dalam
mempelajari berbagai Sutra Mahayana. Aliran ini tidak mengikatkan diri
pada Sutra tertentu. Begitu pula terhadap berbagai aliran
filsafat dan theogoni di dalam aliran Mahayana. Aliran Chan lebih
mengutamakan pendekatan secara kerohanian (intuitif) untuk mencapai ”Kesadaran
Tertinggi”. Dengan begitu aliran Chan tidak
berdasarkan Sutra tertentu dan tidak mengutamakan kata-kata
maupun kalimat-kalimat yang dijumpai di dalam Sutra tersebut. Segala ajaran di dalam aliran Chan lebih
mengutamakan saluran ”ingatan-ke-ingatan” (mind-to-mind). Mereka berpegang pada kisah
bagaimana Buddha Gotama (563-483 SM) pada suatu waktu
menyampaikan ajaran-Nya tanpa mengucapkan sepatah katapun, tetapi hanya
memandangi mata seorang murid-Nya. Beliau lalu membuat ”gerak-kecil dengan
jarinya”. Murid
itu mendadak menerima suatu ”Ilmu Tertinggi”. Aliran Chan tidak
mempergunakan argumentasi-argumentasi yang rasionil maupun rumusan-rumusan
theologies yang demikian pelik.
Sifat kepribadian pada aliran Chan amat
kuat sehingga para pengikutnya kurang menaruh hormat terhadap patung-patung
pujaan. Sikap aliran Chan ada yang menilai agak bersifat icono-clastic, yakni menolak pemujaan
patung-patung, karena pujaan-pujaan lahiriah itu tidak membawa kepada ”Tujuan Tertinggi”. Titik berat ajarannya lebih
mengutamakan disiplin, yakni ketaatan dan khidmat yang sepenuh-penuhnya kepada
”Guru”. Hanya ”Guru” saja yang secara resmi dan pasti dapat menuntun seorang
Murid kepada pencerahan dan kebenaran untuk mencapai ”Kepribadian Buddha”. Aliran Chan berpendirian bahwa
”Kepribadian Buddha” hidup terbenam dalam diri manusia dan
melalui renungan di dalam samadhi, maka ”Kepribadian-Buddha” itu
dapat dilihat.
Isi ”Kepribadian Buddha” adalah kekosongan
(sunnata) yang berarti kosong dari setiap ciri-ciri khusus. Alam lahir
dengan seluruh ciri-ciri khusus itu hanya khayal (maya) belaka. Jalan satu-satunya
untuk mendekati ”Kebenaran Terakhir” itu adalah melalui samadhi,
yang terbagi dalam dua macam, yakni :
1. Tathagata-Meditation, yaitu cara samadhi dari Buddha Gotama, caranya mempergunakan kodrat-kodrat renungan.
2. Patriarchal-Mediation, yaitu cara samadhi yang diajarkan oleh bhikkhu Bodhidharma, meniadakan pemikiran
dan memusatkan kesadaran rohani guna mencapai ”Kepribadian Buddha”.
Di dalam kesadaran rohani itu semua batas pandangan
dilenyapkan, seluruh pengharapan-pengharapan dipusatkan, dan satu-satunya
tujuan adalah menyaksikan ”Kebenaran Terakhir” itu. Guru-guru Besar dari
aliran Chan itu pada masa-masa kemudian sengaja mengajar dan
berbicara dalam bahasa biasa. Tidak lagi menggunakan laku dan gerak yang penuh
rahasia dan teka-teki. Hal inilah yang menyebabkan aliran Chan itu
populer di Cina.
Tentang kesadaran rohani itu terdapat dua paham pada
masa Imam ke-enam Hui-Neng (638-713 M) masih hidup, yaitu:
1. Kesadaran Mendadak, dianut oleh aliran Selatan yang
didirikan oleh Hui-Neng, kemudian dikembangkan oleh Shenhui (670-762) dan pada
masa akhir dinasti Tangtumbuh menjadi lima cabang perguruan dan secara bersama-sama membentuk
lima perguruan Chan di Cina yang terkenal sampai
sekarang.
2. Kesadaran Berangsur, dianut oleh aliran Utara,
berdasarkan ajaran dari Shen-Hsiu (605-796 M). Aliran utara itu bertahan tidak
lama lalu lenyap.
7.
Aliran Chen-yen
Chen-yen bermakna ”Kata yang Benar”. Aliran Chen-yen berpendirian bahwa alam semesta itu berisi tiga
misteri, yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan. Tiga misteri itu menyimpan
kodrat-kodrat yang bersifat magis. Seluruh alam lahir yang merupakan
penjelmaan pikiran, ucapan, dan perbuatan itu adalah manifestasi dari ”Buddha-Matahari
Terbesar”. Di sana dirasakan pengaruh mitologi Yunani, yang pada abad
ketiga sebelum masehi dibawa oleh pasukan Yunani yang menguasai Asia Tengah dan
anak benua India. Orang Yunani pada waktu itu memuja Dewa Matahari (Zeus). Dengan mempergunakan bahasa rahasia, sajak-sajak
mistik, kata-kata mantra, dan sebagainya, maka inti kodrat dari Buddha akan
dapat dihubungi oleh manusia dan digunakan untuk sesuatu tujuan. Doktrin ini
pada awalnya memperoleh pengaruh besar di Cina tetapi kemudian berangsur-angsur
mundur. Namun dewasa ini dijumpai pengaruhnya di Tibet dan Jepang.
C. Tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan agama Buddha di Cina
a.
Kumarajiva
(344-413M)
Kumarajiva
dilahirkan di kara shard an tidak lama setelah itu ibunya memeluk agama Buddha
dan menjalani kehidupan suci menjadoi Bhikkhuni. Dia mempunyai guru. Sejak
berusia 9 tahun dia dibawa ibunya ke kasmir untuk belajar kitab-kitab dan
filsafat agama Buddha. Dia juga mempunyai guru (Budhudatta) yang menganut
pandangan Mahayana. Dengan penetahuan yang luas dan mendalam tentang filsafat
aliran-aliran Buddha dan penguasaan terhadap bahasa Sansekerta maupun Cina.
b.
Paramatha (513-569M)
Paramatha adalah seorang sramana yang berasal dari suatu pendidikan agama Buddha
dengan bahasa sankerta Paramatha juga menerjemahkan kitab-kitab sanskreta
kedalam bahasa Cina.
c.
Bodhidarma
(wafat tahun 528/536)
Bodhidarma
pergi ke Cina bertujuan untuk memperkenalkan sistem filsafat. Filsafat Bodhidarma yaitu filsafat kekosongan (sunyata) dan
sunyata tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Aliran Bodhidarma ini
berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan dengan keadaan.
d.
Huan-Tsang
(602-664M)
Huan-Tsang
merupakan seorang penulis sejarah maupun penerjemah kitab-kitab Sankerta
kedalam bahasa Cina. Huan-Tsang menerjemahkan dengan cara bebas untuk
menerjemahkan hal yang dimaksud, meniadakan pengulangan-pengulangan dan memberikan
tambahan.
e.
Bodhiruci (
571-727M)
Nama asli Bodhiruci adalah Dharmaruci. Arti kata yang mengandung dari masing-masing
nama tersebut adalah cinta-Dharma menjadi cinta pengetahuan. Bohiruci mempelajari
beberapa ilmu pengetahuan seperti
astronomi, ilmu bumi dan agama serta menjadi Bhikkhu setelah mempelajari ilmu
tersebut dan samsara hidupnya dia membaktikan dirinya untuk menerjemahkan
kitab-kitab agama Buddha.
D. Kemunduran agama Buddha di
Cina
Pada tahun 845 agama Buddha di Cina
menghadapi cobaan berat. Kaisar Wu Zong yang berkuasa mengeluarkan perintah
untuk melenyapkan pengaruh agama Buddha atas pertimbangan
ekonomi. Lebih dari 4.600 vihara dan 40.000 biara di wilayah kerajaan
dihancurkan, lebih dari 260.500 bhikkhu-bhikkhuni dipaksa kembali ke kehidupan rumah tangga
sementara lebih dari 150.000 dipaksa menjadi pekerja kerajaan. Dan tidak dapat
dibayangkan banyaknya karya-karya sutra dan sastra yang
ditulis selama 6 dinasti ikut terbakar dan hancur.
Dalam keadaan yang sulit tersebut, agama Buddha dari
aliran Chan saja yang dapat bertahan dan tidak banyak
terpengaruh karena aliran ini tidak tergantung pada kitab-kitab ataupun
upacara-upacara.bhikkhu-bhikkhu aliran Chan dapat
bekerja sendirisendiri untuk mendapatkan nafkahnya dan tidak tergantung dari
masyarakat.
Krisis yang terjadi pada masyarakat Cina setelah
runtuhnya dinasti Han telah diwarnai oleh nilai-nilai yang
dibawa oleh ajaran agama Buddha yang masuk melewati Asia
Tengah. Diseluruh wilayah kerajaan, baik di utara, selatan, maupun suku-suku
nomad (pengembara) serta di lingkungan kaum terpelajar maupun masyarakat umum,
agama Buddha diterima dengan tangan terbuka. Kemudian
agama Buddha ikut berkembang dalam pasang
surutnya dinasti-dinasti.
Ajaran agama Buddha mempunyai
pengaruh yang kuat dalam kebudayaan Cina. Ajaran Mahayana membawa pengaruh terhadap seni patung dan seni lukis
di negeri ini. Agama Buddha juga menambah perbendaharaan
bahasa Cina serta menambah wawasan pandangan dan pemikiran bangsa Cina. Keberadaan
ajaran Kong Hu Chu dan Tao yang ada tidak cukup kuat untuk menahan para
cendekiawan pergi ke India mempelajari pandangan-pandangan baru. Menjelang
akhir abad ke-8, kebudayaan Cina berkembang ke arah yang sebaliknya.
Ketimpangan kehidupan biara dan kerajaan telah dijadikan alasan bagi penguasa
untuk mengesampingkan agama Buddha dan mengembalikan pandangan
asli yang berdasarkan ajaran Kong Hu Chu dan Tao. Beberapa waktu kemudian kedua
ajaran asli Cina mengalami zaman kebangkitan kembali pada abad ke 10.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar