Jumat, 13 Desember 2013

Agama Buddha di Cina

Bab II
Pembahasan
A.    Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Cina
Agama Buddha berkembang ke Cina sekitar abad kedua sebelum masehi melalui Asia Tengah dan mulai berpengaruh pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58-75 M). Sejak dinasti Han (202-­220 M), agama Buddha mulai mendapat perhatian. Kira-kira pada masa itulah Mo Tzu menyusun bukunya Li-huo-lun (Menangkis Kekeliruan) sebagai apologia bagi agama Buddha.
Pada tahun 147 M seorang bhikkhu dari Asia Tengah bernama Lokaraksha telah menetap di Loyang, ibukota dinasti Han masa itu. Pada abad ke-2, ke-3, dan ke-4 banyak bhikkhu dari India pergi ke Cina dan menyalin berbagai Sutra dan sastra dalam bahasa Cina.
Pada tahun 399 M seorang bhikkhu Cina bermana Fa Hien, bersama rombongannya yang terdiri atas 10 orang, melakukan perjalanan ke India melalui jalan darat untuk mempelajari agama Buddha. Pada tahun 413 M, beliau pulang melalui jalan laut dan singgah di Sriwijaya (Sumatera) dan Jawa. Beliau menyalin berbagai sutra. Catatan beliau mengenai negara-negara  Buddhis (Record of Buddhist countries) terkenal sampai kini.
Dalam masa dua setengah abad, setelah bhikkhu Fa-Hien, banyak lagi peziarah yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu Cina, berangkat ke India. Tetapi catatan perjalanan mereka lenyap, kecuali petikan-petikan singkat yang terdapat pada berbagai naskah kuno. Menjelang awal abad ke-7 M, seorang bhikkhu Cina bernama Huan­ Tsang melakukan perjalanan lagi ke India dan catatan perjalanan beliau pada berbagai wilayah barat itu (Record of West­ern Regions) merupakan salah satu sumber sejarah sampai kini. Beliau merasa tidak puas menyaksikan agama Buddha yang dicintainya telah kehilangan pengaruh di anak benua India.



B.   Aliran Agama Buddha Awal di China
Aliran-aliran agama Buddha yang berkembang di Cina secara garis besar terbagi  dalam dua pandangan, yaitu (1) aliran-aliran dari pandangan Atta dan (2) aliran-aliran dari pandangan Anatta.
Aliran yang mula-mula berkembang di Cina adalah Theravada, yang terbagi dalam tiga aliran, yaitu :
1.      Cheng-shih (di India dinamakan aliran  Sautantika), yang berpandangan bahwa Dhamma dan kehidupan itu hanya realitas maya. Aliran itu berkembang di Cina sampai abad ke-6, lalu mulai mundur, dan kemudian lenyap pada abad ke-8 setelah aliran San-lun (Mahayana) muncul.
2.      Chu-she (di India dinamakan aliran Vaibashika), berpandangan bahwa Dhamma dan kehidupan itu mempunyai realitas. Aliran itu berkembang sampai abad ke-7 dan kemudian lenyap setelah aliran Mahayana muncul.
3.      Lu, yaitu aliran yang mempertahankan peraturan yang ketat bagi kehidupan Sangha berdasarkanVinaya Pitaka. Ajaran dari aliran ini dikembangkan dan disempurnakan oleh Tao­shuan (596-667 M), seorang bhikkhu terkemuka dari Gunung Selatan. Peraturan yang ketat itu termasuk 250 "larangan" bagi bhikkhu dan 348 "larangan" bagi bhikkhuni. Lambat laun aliran tersebut meresapi ajaran-ajaran aliran lain sehingga tidak lagi merupakan aliran tersendiri. 
Ketiga aliran tersebut tidak bertahan lama karena masuknya aliran Mahayana yang lebih mudah berkembang di Cina, sehingga pada akhirnya pengaruh Theravada lenyap dari bumi Cina.
Dalam aliran Mahayana di Cina, berkembang tujuh aliran besar, yaitu :
1.    Aliran San-lun
2.    Aliran Wei-shih
3.    Aliran Tien-tai
4.    Aliran Hua-yen
5.    Aliran Chan
6.    Aliran Ching-tu
7.    Aliran Chen-yen
Di antara tujuh aliran itu, hanya empat paling berpengaruh dan merupakan inti dari agama Buddha di Cina. Keempat aliran itu adalah Tien-tai, Hua-yen, Chan, dan Ching-tu. Dalam lingkungan agama Buddha di Cina, ada pameo berbunyi : "Tien-tai dan Hua-yen untuk doktrin; Chan dan Ching­tu untuk kebaktian." Intisari pendirian dari satu persatu aliran tersebut dijelaskan di bawah ini.
1.    Aliran Sun-lun
San-lun artinya Tiga Sutra. Aliran ini berdasarkan pada tiga karya yang disalin Kumarajiva ke dalam bahasa Cina. Dua buah di antaranya adalah karya Bhikkhu Nagarjuna dan sebuah lagi merupakan karya muridnya, Deva. Aliran ini di India dikenal sebagai aliran Madhyamika (Aliran Tengah). Aliran ini berpendirian bahwa seluruh alam luar itu hanya suatu realitas terbatas (qualified reality) belaka, tidak merupakan realitas penuh. Seluruh fenomena dalam alam luar itu sepanjang fragmatis memang suatu kenyataan, dalam pengertian realitas terbatas, bagi tujuan-tujuan praktis. Semuanya itu hanya riil dalam pengertian kenyataan semu belaka. Tidak terdapat satupun dari keseluruhannya itu memiliki Atta (full-Being).Pada akhirnya, semuanya akan kehilangan realitas.
Setiap orang terus menerus dipengaruhi oleh ilusi (khayal) dari tanggapan indrianya. Semuanya itu pada hakikatnya hanya kekosongan belaka. Kekosongan (sunyata) itu saja yang betul-betul Sunya Vada(Doktrine of Emptiness). Suatu kritik yang diajukan terhadap pemikiran Sunya Vada adalah apabila pemikiran itu dilanjutkan maka setiap pemikiran (bahkan pemikiran Sunya Vada itu sendiri yang mempertahankan serba-kosong itu) adalah tidak riil. Argumentasi di atas itupun, yang menantang Sunya Vada, juga tidak riil. Pernyataan terakhir itupun tidak rill. Begitu seterusnya tanpa henti-hentinya.
Sekalipun begitu, aliran Sunya Vada itu bukan bersifat pesimistis karena di dalamnya terkandung pula sesuatu yang positif. Jika alam luar itu pada hakikatnya tidak riil dan hanya kekosongan saja yang betul-betul riil, namun hal itu dapat dialami dalam samadhi secara langsung dan pasti, yaitu suatu hal yang tidak dimiliki oleh alam luar, maka kekosongan itu pada hakikatnya berada di mana-mana mencakup segalanya. Jadi segala yang ada itu pada hakikatnya merupakan bagian dari kekosongan itu atau Nirvana.
Di dalam ungkapan yang lebih mudah untuk dipahami akan dapat dijelaskan sebagai berikut : silahkan pejamkan mata anda dan tutup telinga anda maka segalanya akan berubah menjadi suatu yang kosong (void). Dengan membenamkan diri di dalam kekosongan itu (sewaktu menjalankan samadhi), seseorang mencapai Nirvana. Di sana terasa ketentraman jiwa, teduh-tenang, suatu diam yang kekal.
Di dalam aliran Madhyamika ini dijumpai dua pengertian tentang kebenaran, yaitu kebenaran umum dan kebenaran tertinggi. Pernyataan bahwa Dhamma dan aku itu ada merupakan hal yang dipandang dari sudut kebenaran umum atau kebenaran alami, yang sifatnya relatif dan pragmatis. Pernyataan bahwaDhamma dan aku itu senantiasa berubah dari saat ke saat dan itu bukan sesuatu yang tetap ada pada setiap saat merupakan hal yang dipandang dari sudut kebenaran tertinggi. Hanya Sunya (kekosongan,void) saja yang memiliki realitas yang tidak berubah-­ubah.
Titik tolak aliran Madhyamika itu berpangkal pada Empat Dalil yang pada intinya menolak setiap pandangan tentang : (1) ada, (2) tidak ada, (3) serentak ada dan tidak ada, (4) serentak ada dan bukan tidak ada. Keempat hal tersebut apabila dibahas satu persatu secara terperinci dengan argumentasi-argumentasi yang padat dan tajam akan memperlihatkan ketajaman dalam penggunaan logika sehingga ketiga Sutrayang menjadi dasar aliran Madhyamika itu mempunyai kekuatan yang mempesona. Demikian pendapat dari W. Theddore de Bary di dalam buku Sources of Chinese Tradition edisi 1964, menyatakan bahwa George Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776), dua orang filsuf bangsa Inggris yang pendapatnya menggoncangkan alam pikiran di Barat pada abad ke-18, meminjam dalil-dalil Bhikkhu Nagarjuna itu. Aliran  Madhyamika  di Cina (aliran San-lun) ini kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Dhi-tsang (549-623 M), seorang bhikkhu yang memiliki ayah dari Parsi dan ibu dari Cina. Karya-karyanya merupakan penyempurnaan yang menyeluruh bagi aliran Mahayana. Akan tetapi aliran itu mulai kurang berpengaruh semenjak abad ke-9 Masehi.
2.    Aliran Wei-shih
Wei-shih itu bermakna “Hanya Kesadaran”. Aliran ini di India dikenal dengan nama vijnanavada yang dibangun oleh Asanga Sebelum karya Asanga disalin ke dalam bahasa Cina, aliran ini dikenal dengan sebutan She-lun. Aliran ini belakangan dikenal sebagai aliran Fahsiang (Dharmakaya), dibangun oleh Huan-Tsang (596-664 M), seorang bhikkhu, penulis, dan cendekiawan. Beliau melakukan perjalanan ke India, setelah pulang kembali ke Cina, beliau dengan tekun menyalin karya-karya kaum vijnanavada, terutama karya  Bhikkhu Dhammapala yang  berjudul  Vijnapti-Matrata-Siddhi (Sistematika dari Hanya Kesadaran, Cheng Wei Shih Lun). Semenjak itu aliran ini lebih dikenal dengan sebutan AliranWei-Shih.
Vijnanavada ini merupakan sebuah aliran Cita-Murni (Pure Idealism). Perwujudan alam luar itu hanya ada di dalam ingatan seseorang. Alam luar itu tidak lain dari maya belaka. Bagi seseorang di dalam samadhi mungkin saja bisa memunculkan di depan mata ingatannya akan segala rupa dari alam luar itu, yang benar-benar mirip menurut kenyataannya sesuai tanggapan indria, namun orang tersebut sadar bahwa semuanya itu tidak memiliki realitas. Justru tanggapan itu, dengan begitu, bukan bukti atas “ada”. Setiap tanggapan itu tidak lain adalah proyeksi dari ingatan belaka, yakni dari kesadaran seseorang.
Meskipun begitu, kaum Vijnanavada mengakui ada sesuatu yang bebas dari pemikiran manusia, “ada yang murni”, dan menyeluruh tanpa ciri, yang tidak bisa diberi predikat olah karena ada itu sendiri tanpa predikat. “Ada yang Murni” dan menyeluruh itu disebut dengan Tathata. Tathata itu merupakan sebutan bagi Maha Pencipta, Tathata itu bermakna “Kenyataan”. “Kenyataan” itu merupakan sesuatu yang dapat ditunjuk oleh kesadaran tetapi tidak dapat dilukiskan.
Mengenai pengertian Tathata, ada yang menafsirkannya sebagai pengaruh dari ajaran Tao dari Lao-Tzu. Mengenai ajaran bahwa Tathata itu merupakan sesuatu “Ada yang Murni” tanpa predikat, ada yang berpendapat bahwa ajaran itu berpengaruh terhadap aliran Iktizal di dalam Islam, suatu aliran yang dibangun di Basrah oleh Washil ibn Athak (689-748 M) dan Amru ibn Ubaid (699-757 M), kemudian berkembang ke Baghdad dan pada masa pemerintahan Khalif Al Makmun (813-833 M) diakui sebagai aliran resmi yang menggantikan aliran Sunni.
Mengenai ajaran tentang Keselamatan (Salvatian),  yakni  Moksha  yang akan membebaskan Dukkha, kaum Vijnanavada berpendapat bahw  hal itu hanya dapat dicapai dengan menghabiskan perbendaharaan kesadaran sampai “Ada yang Murni”, sehingga akhirnya sama dengan Kenyataan(Tathata). Jalan satu-satunya untuk mencapai hal itu hanya dengan menjalani Yoga, yang terbagi atasKriya yoga dan Raja yoga. Tathata atau “Kenyataan” itu dapat dicapai dengan empat hikmat, yaitu :
1.   hikmat laku, terdiri atas lima tingkat kesadaran.
2.   hikmat tinjauan, pemusatan kesadaran indria.
3.   hikmat ingatan, pemusatan kesadaran ingatan.
4.   hikmat Kaca-Maha-Agung, berupa kesadaran tertinggi, yang melenyapkan diri ke dalam Keituan.
3.    Aliran Tien-tai
Aliran Tien-tai dalam agama Buddha mendapatkan kedudukan penting dalam filsafat Cina. Di Jepang disebut dengan aliran Nichiren. Pada mulanya aliran ini berdasarkan pada Saddharma-Pundarika-Sutra (Seroja dari Hukum Terbaik), tetapi dalam perkembangannya, penafsiran terhadap karya tersebut yang diberikan oleh Chih-kai (538-597 M) menjadi pegangan utama. Chih-kai adalah nama seorang bhikkhu yang berasal dari wilayah Gunung Tien-Tai di provinsi Chekiang, tempat bhikkhu Chih-kai membuka perguruannya.
Seroja Hukum Terbaik itu, menurut pendapat Guru Besar dari Tien-tai, adalah Sutra Mahayana yang paling mudah untuk dipahami oleh kalangan umum, karena bukan karya theologis yang berbelit-belit, tetapi langsung memberikan tuntutan ke arah keselamatan melalui praktek. Pandangan-pandangan Chih-kai dicatat dan dihimpun oleh muridnya, Kuan-tingdan merupakan tiga karya besar dari aliran Tien-tai, yaitu :
1.   Fa-hua wen-chu, tentang kata dan kalimat di dalam Seroja.
2.   Fa-hua hsuan-i, tentang pengertian yang lebih dalam dari Seroja.
3.   Mo-ho chi-kuan, tentang kesadaran dan renungan.
Pada masa itu, agama Buddha di Cina memperlihatkan dua ciri. Di wilayah bagian selatan lebih mengutamakan pembahasan­-pembahasan secara rasional dan filosofis. Sedangkan di wilayah bagian utara lebih mengutamakan kepercayaan dan penghormatan terhadap tata tertib. Belahan selatan bersifat intelektual sementara belahan utara bersifat disiplin. Chih-kai berasal dari selatan, tetapi gurunya, Hui-tsu (514­-577 M) berasal dari utara. Dengan begitu menurut pemeo Cina, pada diri Chih-kai itu bersatu dua sayap burung. Ajaran Tien-tai mengutamakan suatu prinsip yang disebut dengan Keselamatan Sempurna melalui Tiga Kebenaran,yaitu :
1.  Seluruh “unsur” (Dharma) dan “aku” merupakan suatu kekosongan belaka, yang dihasilkan oleh hukum sebab-akibat, serta tidak memiliki ciri kedirian.
2.  Semuanya hanya “Ada Sementara”.
3.  Disebabkan kosong dan sementara, maka watak khusus dari segalanya itu hanya “pengertian-pengertian” belaka.
Ketiga hal tersebut (kosong, sementara, pengertian) saling berkaitan satu dengan lainnya, dengan demikian, “Satu adalah Tiga” dan “Tiga adalah Satu”. Kesatuan itu merupakan “ada-Kenyataan”yang relatif tetapi memiliki kemiripan dengan Yang Mutlak. Titik berat terpenting pada aliran Tien-tai terletak pada kesadaran dan renungan sebagai jalan untuk menuju “Kebenaran Terakhir”. “Kebenaran Terakhir” itu terjelma pada saat-saat dalam Ekstasi.Ada Sementara’ itu memiliki kepribadian-Buddha di dalam dirinya dan justru bisa diselamatkan melalui kesadaran dan konsentrasi. Dalam hal ini, sarjana menilai sebagai pengaruh ajaran Atman danBrahman dari agama Hindu.
4.    Aliran Hua-yen
Aliran Hua-yen bermakna  Kalung Bunga (Flower Gar­land School). Aliran  Hua-yen  ini berdasarkan  Avatamsaka-Sutra,  sebuah karya  dari India Utara, yang mengemukakan ajaran Sakyamuni dalam kedudukannya sebagai penjelmaan  Buddha Vairochana. Aliran tersebut di India sendiri tidak pernah ada. Sedangkan Vairochana itu, di dalam Upanishads yang merupakan kitab suci agama Hindu, adalah penamaan bagi pemimpin kodrat-kodrat rohani yang mempunyai sifat tertentu. Aliran ini mula-mula dibangun oleh Tua-shun (557-640 M), kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Fa-tsang (643-712 M), seorang Guru Besar dari Hsien-show. Dengan demikian aliran ini berasal dari daerah asal guru besarnya.
Pokok ajaran utama dalam aliran Hua-yen adalah Kausalitas Univeral, yaitu Hukum Sebab Akibat yang Universal. Alam semesta itu tercipta dengan serentak dan ini yang disebut alam Hukum(Dharmadhatu) oleh aliran Hua-yen. Seluruh unsur (Dharma) dan aku memiliki tiga ciri yang saling berlawanan, yaitu :
1.   umum khusus
2.   persamaan ­perbedaan
3.   kesatuan perpisahan.
5.    Aliran Ching-tu
Aliran Ching-tu biasa disebut aliran Sukhavati (Happy Land School), didasarkan pada Sukhavati-Vyusha-Sutra. Keadaan di dalam  Sukhavati digambarkan dengan keadaan yang sangat menggiurkan siapapun.  Kesenangan  yang bagaimanapun sempurnanya di dunia ini tidak berarti bila dibandingkan dengan kesenangan yang bakal dinikmati di dalam Sukhavati. Oleh karena itulah aliran Ching-tu memperoleh pengaruh yang kuat dan luas dari kalangan umum di seluruh Cina.
Sukhavati dikuasai oleh Buddha Amitabha. Di Cina disebut dengan Kwan-Yin dan di Jepang disebut dengan Amida. Setiap orang yang menginginkan kebenaran dan pencerahan, senantiasa memusatkan pemikiran dan renungan terhadap Amitabha, pada saat menghembuskan napas yang penghabisan mengucapkan nama-Nya, maka Buddha Amitabha dengan segala pengiringnya akan menyambut orang itu dan langsung membawanya ke Sukhavati. Para pengikut aliran Ching-tu sangat mengutamakan samatha, ketenangan batin.
6.    Aliran Chan
Aliran Chan di Cina dikenal di India dengan sebutan aliran Dhyana dan di Jepang dikenal dengan sebutan aliran Zen. Dhyana  berarti  meditasi (samadhi). Chan”  dan Zen”  adalah perubahan bunyi (transliterasi) dari dhyana menurut dialek Cina dan dialek Jepang. Aliran Chan bersifat mistik. Buddha Gotama pada masa hidup-Nya, menurut aliran Chan, tidak memberikan dan membukakan ”Ilmu Tertinggi” kepada siapapun, kecuali kepada seorang murid-Nya yang amat penting, Bhikkhu Maha Kassapa, satu-satunya murid yang sanggup memahaminya. Bhikkhu Maha Kassapa dipandang sebagai Bhikkhu pertama menurut silsilah di dalam  aliran Chan. Demikian pula halnya dengan aliran Chan yang menyatakan bahwa Bhikkhu Maha Kassapa hanya mewariskan hikmat rahasia itu kepada penggantinya, demikian terus menerus hingga berjumlah 27 orang Bhikkhu di India.  Bhikkhu yang ke-8 bernama Bodhidharma yang meninggalkan India dan berlayar ke Cina pada tahun 527 (masa pemerintahan Liang Wudi dari dinasti Liang). Bodhidharma menetap selama 9 tahun di Vihara Saolin, di pegunungan Song, serta menunjuk bhikkhu Hui-ke sebagai penggantinya.
Di Cina, ”Kebenaran rahasia” itu diwariskan secara turun temurun. Secara berturut-turut bhikkhu Hui-ke digantikan oleh Seng Can, Dao Xin, Hong Ren, dan Hui Neng (638-713 M) dalam kedudukannya sebagai bhikkhu Keenam (Sixth Patriarch). Murid Hui-neng yang terkenal adalah Nanyue Hua Rang(677-744), Qingyuan Xingsi (660-740), Yongjia Xuang Xuang jue (665-713), Nanyang Huizon (677-775), dan Heze Shenhui (670-758 M.).
Aliran Chan bersikap agak bebas dalam mempelajari berbagai  Sutra MahayanaAliran ini tidak mengikatkan diri pada Sutra tertentu. Begitu pula terhadap berbagai aliran filsafat dan theogoni di dalam aliran Mahayana. Aliran Chan lebih mengutamakan pendekatan secara kerohanian (intuitif) untuk mencapai ”Kesadaran Tertinggi”. Dengan begitu aliran Chan tidak berdasarkan Sutra tertentu dan tidak mengutamakan kata-kata maupun kalimat-­kalimat yang dijumpai di dalam Sutra tersebut. Segala ajaran di dalam aliran Chan lebih mengutamakan saluran ”ingatan-ke-ingatan” (mind-to-mind). Mereka berpegang pada kisah bagaimana Buddha Gotama (563-483 SM) pada suatu waktu menyampaikan ajaran-Nya tanpa mengucapkan sepatah katapun, tetapi hanya memandangi mata seorang murid-Nya. Beliau lalu membuat ”gerak-kecil dengan jarinya”. Murid itu mendadak menerima suatu ”Ilmu Tertinggi”. Aliran Chan tidak mempergunakan argumentasi-argumentasi yang rasionil maupun rumusan-rumusan theologies yang demikian pelik.
Sifat kepribadian pada aliran Chan amat kuat sehingga para pengikutnya kurang menaruh hormat terhadap patung-patung pujaan. Sikap aliran Chan ada yang menilai agak bersifat icono­-clastic, yakni menolak pemujaan patung-patung, karena pujaan-­pujaan lahiriah itu tidak membawa kepada ”Tujuan Tertinggi”. Titik berat ajarannya lebih mengutamakan disiplin, yakni ketaatan dan khidmat yang sepenuh-penuhnya kepada ”Guru”. Hanya ”Guru” saja yang secara resmi dan pasti dapat menuntun seorang Murid kepada pencerahan dan kebenaran untuk mencapai ”Kepribadian Buddha”. Aliran Chan berpendirian bahwa ”Kepribadian Buddha” hidup terbenam dalam diri manusia dan melalui renungan di dalam samadhi, maka ”Kepribadian-Buddha” itu dapat dilihat.
Isi ”Kepribadian Buddha” adalah kekosongan (sunnata) yang berarti kosong dari setiap ciri-ciri khusus. Alam lahir dengan seluruh ciri-ciri khusus itu hanya khayal (maya) belaka. Jalan satu-­satunya untuk mendekati ”Kebenaran Terakhir” itu adalah melalui samadhi, yang terbagi dalam dua macam, yakni :
1.  Tathagata-Meditation, yaitu cara  samadhi  dari  Buddha Gotama, caranya mempergunakan kodrat-kodrat renungan.
2.  Patriarchal-Mediation, yaitu cara  samadhi yang diajarkan oleh  bhikkhu  Bodhidharma, meniadakan pemikiran dan memusatkan kesadaran rohani guna mencapai ”Kepribadian Buddha”.
Di dalam kesadaran rohani itu semua batas pandangan dilenyapkan, seluruh pengharapan-pengharapan dipusatkan, dan satu-satunya tujuan adalah menyaksikan ”Kebenaran Terakhir” itu. Guru-guru Besar dari aliran Chan itu pada masa-masa kemudian sengaja mengajar dan berbicara dalam bahasa biasa. Tidak lagi menggunakan laku dan gerak yang penuh rahasia dan teka-teki. Hal inilah yang menyebabkan aliran Chan itu populer di Cina.
Tentang kesadaran rohani itu terdapat dua paham pada masa Imam ke-enam Hui-Neng (638-713 M) masih hidup, yaitu:
1.  Kesadaran Mendadak, dianut oleh aliran Selatan yang didirikan oleh Hui-Neng, kemudian dikembangkan oleh Shen­hui (670-762) dan pada masa akhir dinasti Tangtumbuh menjadi lima cabang perguruan dan secara bersama-sama membentuk lima perguruan Chan di Cina yang terkenal sampai sekarang.
2.  Kesadaran Berangsur, dianut oleh aliran Utara, berdasarkan ajaran dari Shen-Hsiu (605-796 M). Aliran utara itu bertahan tidak lama lalu lenyap.
7.    Aliran Chen-yen
Chen-yen bermakna ”Kata yang Benar”. Aliran Chen-yen  berpendirian bahwa alam semesta itu berisi tiga misteri, yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan. Tiga misteri itu menyimpan kodrat-­kodrat yang bersifat magis. Seluruh alam lahir yang merupakan penjelmaan pikiran, ucapan, dan perbuatan itu adalah manifestasi dari ”Buddha-Matahari ­Terbesar”. Di sana dirasakan pengaruh mitologi Yunani, yang pada abad ketiga sebelum masehi dibawa oleh pasukan Yunani yang menguasai Asia Tengah dan anak benua India. Orang Yunani pada waktu itu memuja Dewa Matahari (Zeus). Dengan mempergunakan bahasa rahasia, sajak-sajak mistik, kata-kata mantra, dan sebagainya, maka inti kodrat dari Buddha akan dapat dihubungi oleh manusia dan digunakan untuk sesuatu tujuan. Doktrin ini pada awalnya memperoleh pengaruh besar di Cina tetapi kemudian berangsur-angsur mundur. Namun dewasa ini dijumpai pengaruhnya di Tibet dan Jepang.
C.    Tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan agama Buddha di Cina
a.       Kumarajiva (344-413M)
Kumarajiva dilahirkan di kara shard an tidak lama setelah itu ibunya memeluk agama Buddha dan menjalani kehidupan suci menjadoi Bhikkhuni. Dia mempunyai guru. Sejak berusia 9 tahun dia dibawa ibunya ke kasmir untuk belajar kitab-kitab dan filsafat agama Buddha. Dia juga mempunyai guru (Budhudatta) yang menganut pandangan Mahayana. Dengan penetahuan yang luas dan mendalam tentang filsafat aliran-aliran Buddha dan penguasaan terhadap bahasa Sansekerta maupun Cina.
b.      Paramatha (513-569M)
Paramatha adalah seorang sramana yang berasal dari suatu pendidikan agama Buddha dengan bahasa sankerta Paramatha juga menerjemahkan kitab-kitab sanskreta kedalam bahasa Cina.
c.       Bodhidarma (wafat tahun 528/536)
Bodhidarma pergi ke Cina bertujuan untuk memperkenalkan sistem filsafat. Filsafat Bodhidarma yaitu filsafat kekosongan (sunyata) dan sunyata tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Aliran Bodhidarma ini berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan dengan keadaan.
d.      Huan-Tsang (602-664M)
Huan-Tsang merupakan seorang penulis sejarah maupun penerjemah kitab-kitab Sankerta kedalam bahasa Cina. Huan-Tsang menerjemahkan dengan cara bebas untuk menerjemahkan hal yang dimaksud, meniadakan pengulangan-pengulangan dan memberikan tambahan.

e.       Bodhiruci ( 571-727M)
Nama asli Bodhiruci adalah Dharmaruci. Arti kata yang mengandung dari masing-masing nama tersebut adalah cinta-Dharma menjadi cinta pengetahuan. Bohiruci mempelajari beberapa ilmu pengetahuan seperti astronomi, ilmu bumi dan agama serta menjadi Bhikkhu setelah mempelajari ilmu tersebut dan samsara hidupnya dia membaktikan dirinya untuk menerjemahkan kitab-kitab agama Buddha.
D.  Kemunduran agama Buddha di Cina
Pada tahun 845 agama Buddha di Cina menghadapi cobaan berat. Kaisar Wu Zong yang berkuasa mengeluarkan perintah untuk melenyapkan pengaruh agama Buddha atas pertimbangan ekonomi. Lebih dari 4.600 vihara dan 40.000 biara di wilayah kerajaan dihancurkan, lebih dari 260.500 bhikkhu-bhikkhuni dipaksa kembali ke kehidupan rumah tangga sementara lebih dari 150.000 dipaksa menjadi pekerja kerajaan. Dan tidak dapat dibayangkan banyaknya karya-karya sutra dan sastra yang ditulis selama 6 dinasti ikut terbakar dan hancur.
Dalam keadaan yang sulit tersebut, agama Buddha dari aliran Chan saja yang dapat bertahan dan tidak banyak terpengaruh karena aliran ini tidak tergantung pada kitab-kitab ataupun upacara-upacara.bhikkhu-bhikkhu aliran Chan dapat bekerja sendiri­sendiri untuk mendapatkan nafkahnya dan tidak tergantung dari masyarakat.
Krisis yang terjadi pada masyarakat Cina setelah runtuhnya dinasti Han telah diwarnai oleh nilai-nilai yang dibawa oleh ajaran agama Buddha yang masuk melewati Asia Tengah. Diseluruh wilayah kerajaan, baik di utara, selatan, maupun suku-suku nomad (pengembara) serta di lingkungan kaum terpelajar maupun masyarakat umum, agama Buddha diterima dengan tangan terbuka. Kemudian agama Buddha ikut berkembang dalam pasang surutnya dinasti-dinasti.
Ajaran agama Buddha mempunyai pengaruh yang kuat dalam kebudayaan Cina. Ajaran Mahayana membawa pengaruh terhadap seni patung dan seni lukis di negeri ini. Agama Buddha juga menambah perbendaharaan bahasa Cina serta menambah wawasan pandangan dan pemikiran bangsa Cina. Keberadaan ajaran Kong Hu Chu dan Tao yang ada tidak cukup kuat untuk menahan para cendekiawan pergi ke India mempelajari pandangan-pandangan baru. Menjelang akhir abad ke-8, kebudayaan Cina berkembang ke arah yang sebaliknya. Ketimpangan kehidupan biara dan kerajaan telah dijadikan alasan bagi penguasa untuk mengesampingkan agama Buddha dan mengembalikan pandangan asli yang berdasarkan ajaran Kong Hu Chu dan Tao. Beberapa waktu kemudian kedua ajaran asli Cina mengalami zaman kebangkitan kembali pada abad ke 10.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar